Cerita sehari-hari

Hello Februari

Banyak hal terjadi. Banyak masalah tiba-tiba datang. Banyak pula kemungkinan yang harus dicoba. Banyak perpisahan. Banyak pula pertemuan. Makin banyak pula yang terpikir di kepala.

Saya sedang menikmati semilir angin yang menerobos jendela sore ini. Matahari belum turun terlalu jauh. Mengamati pucuk dedaunan yang melambai di halaman rumah tetangga. Saya berpikir. Alangkah nikmatnya menikmati hidup hingga tua bersama orang yang dicintai. Sebanyak-banyaknya waktu yang dipunya, hanya dihabiskan bersama pasangan.

Saya mungkin sedang gila. Saya sudah melihat banyak kekosongan yang terjadi ketika pasangan meninggalkan kita. Kondisi yang limbung. Bahkan tak ada daya dan upaya melanjutkan hidup. Ada yang kosong. Hampa.

Banyak teori mengatakan, sebelum memutuskan untuk bersama seseorang, kamu harus menjadi utuh terlebih dulu. Full. Penuh. Jadi tidak ada kekosongan yang kamu harap dapat terisi dengan kehadiran pasangan. Pasangan bukanlah sesuatu yang bisa digunakan untuk mengisi hari-hari yang kosong. Yang hampa. Yang sedih karena kita merasa kesepian.

Ah, kakehan teori.

Intinya saya sedang kangen. Plus hormonal feeling’s really hit me hard.

Bleh.

Promoted Post

Sponsored Post Learn from the experts: Create a successful blog with our brand new courseThe WordPress.com Blog

WordPress.com is excited to announce our newest offering: a course just for beginning bloggers where you’ll learn everything you need to know about blogging from the most trusted experts in the industry. We have helped millions of blogs get up and running, we know what works, and we want you to to know everything we know. This course provides all the fundamental skills and inspiration you need to get your blog started, an interactive community forum, and content updated annually.

vers libre

semangkuk kesedihan

Semangkuk kesedihan tersaji setelah sebelumnya
pisau menghunus dirinya sendiri di dapur
sementara kata-kata kembali pada mulut yang bicara
katanya bisa ina ini ita itu
sayangnya, kata-kata itu terperangkap pada masa lalu

Masa lalu terbuat dari tangis mata ibu
dan kopi pahit yang tersiram ke dinding
membentuk gambar dan gelombang
seperti kapal perompak-perompak yang berlayar di lautan

Kapal-kapal itu melawan badai dan cuaca seperti kesedihan
datang tiba-tiba menenggelamkan

Cuaca seperti kesedihan yang mengambang di pelupuk mata
mendengarkan cerita-cerita lalu menertawakan
kebodohan yang tercipta perompak kembali tiba setelah berlayar di lautan
terapung-apung dalam semangkuk kesedihan
badai lamat-lamat menenggelamkan
semua perasaan

Cerita sehari-hari

di pekuburan

Saya menghabiskan hari yang masih akan panjang ini dengan cukup banyak menangis. Saya sudah menangis pukul tiga pagi di atas ranjang, lalu pukul tujuh di pekuburan, dan pukul tiga belas setelah menamatkan buku yang visualnya membuat saya ingin mual dan mengurung diri saja di kamar untuk seterusnya.

Di pekuburan pagi hari, tidak terlalu ramai orang. Justru itu yang saya sukai. Saya tak pernah suka saat-saat di mana kuburan penuh sesak dengan orang-orang, sebut saja ketika ruwahan, atau lebaran. Pekuburan harusnya sunyi. Ia menangkap gelombang doa, gelombang cinta. Di sana saya menangis entah karena apa. Barangkali penyesalan yang membuat air mata saya jatuh. Sama halnya jika ditanya, kenapa kamu menangis di pukul tiga dini hari buta? Bagi sebagian orang, saat-saat paling kritis itu adalah saat kamu ingin didengarkan, tetapi kamu tidak bisa meraih apa atau siapa. Saat ketika kamu ingin menangis banyak, tapi kamu malu. Merasa tidak cukup lebih menderita ketimbang yang lain. Padahal namanya hidup, siapa saja menanggung deritanya sendiri-sendiri.

Ketika bergumam, berbicara pada ibu saya, saya katakan saya minta maaf. Saya minta maaf tidak terlalu banyak meluangkan waktu bahkan untuk menanyakan kabar atau sudah makan atau belum. Saya juga meminta maaf karena saya menolak menginap saat ia berkunjung dulu. Saya berkata dengan penuh kesadaran, maafkan saya. Sampai ada yang berderai hingga jauh. Hingga tak sadar ada seorang nenek yang lewat, disusul oleh dua anak kecil. Saya tidak tahu dua anak kecil yang saya temui tadi pagi di pekuburan adalah benar anak kecil atau malaikat yang menyaru. Mereka berdua masih menggunakan piyama, menenteng seplastik kembang kamboja yang harumnya jauh tercium meruap ke udara. Tanpa bulir air mata, mereka berdua tertawa-tawa. Si kakak laki-laki menuntun tangan mungil adiknya dan mengajak berkeliling untuk meletakkan dua tiga kuntum kamboja di makam entah siapa-siapa. Mungkin ayah mereka, atau ibu, atau kakek-nenek. Saya tak menemukan mereka bersama anggota keluarga lainnya. Hanya mereka berdua berjalan dari ujung hingga ke ujung, melewati jalan sempit, berpegangan tangan.

Mereka seperti datang, mengingatkan. Masih ada orang-orang yang bisa menggenggam tangan kita dan berjalan bersama-sama.

soundtrack of my life

Life goes on~

Banyak hal terjadi di 2020 bukan?

Boom! Tiba-tiba saja kita sudah tiba di Desember. Tahun yang mengajarkan banyak-banyak bersabar. Tahun yang mengajak tersenyum meski sedikit getir. Tahun yang mengajarkan syukur, ternyata kita masih menghirup udara segar di tengah kesakitan-kesakitan yang kita alami, baik fisik maupun mental.

Tahun 2020 adalah tahun yang dekat sekaligus jauh. Jarak memisahkan. Pelukan mendekatkan. Tahun 2020 membuat kita sadar, siapa yang worth it untuk tetap dipertahankan di lingkar terdekat.

Playlist saya Desember ini muter ini doang bolak-balik sama sealbum Christmas Blue-nya Sabrina Claudio. Dah. Life must go on :’))

Like an echo in the forest
The day will come back around
As if nothing happened
Yeah life goes on

Like an arrow in the blue sky
Another day flying by
On my pillow, on my table
Yeah life goes on
Like this again

Let me tell you with this song
People say the world has changed
But thankfully between you and me
Nothing’s changed

Buku-buku dan Hal Menarik lainnya

Mari Mengaum Bersama Serigala Betina dalam Diri Kita

Apa yang membuat kamu tertarik membaca sebuah buku? Kalau saya sih, bisa jadi dimulai dari siapa penulisnya lalu apa yang ia bahas dalam buku tersebut.

Apalagi yang bisa saya lakukan kecuali menekan tombol preorder saat pertama mendengar kabar bahwa buku karya mbakku yang cantik dan imut akan segera terbit, Mbak Ester Lianawati.

Sudah lama sejak buku ini mendarat di tangan saya sebenarnya, tapi butuh waktu lebih lama bagi saya untuk menuliskan mengenai pandangan-pandangan (cailah) saya atas buku ini.

Saya tidak pernah mendapat kuliah psikologi saat kuliah. Di jurusan saya pun, ada kelas teori psikologi sastra yang waktu itu tidak saya ambil memang. Entahlah, mungkin karena saya pikir, psikologi adalah sesuatu yang harus saya hindari karena dendam di masa lalu (pilihan pertama SNMPTN saya dulu adalah psikologi, tapi yang tembus malah pilihan kedua wkakakaka). Justru kemudian saya berkenalan lagi dengan dunia psikologi melalui si Mas. Bacaan-bacaan seperti Jung atau Freud saya dapat dari beliau. Huehehe.

Berbicara mengenai cover buku ini, jelas ini adalah cover pilihan saya (saat itu tim penerbit memvoting, cover mana yang terbaik di antara 3 pilihan cover yang ditawarkan). Cobalah tengok. Seorang perempuan bisa saja mengenakan kostum bermacam-macam, seperti yang ditampilkan di cover, tapi masing-masing perempuan punya kesamaan yakni memiliki bayangan seekor serigala dalam dirinya. Hal ini ternyata menjadi poin penting bahwa ada serigala betina dalam diri setiap perempuan, seperti judulnya. Tepat sekali!

Dalam diskusi buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan yang diselenggarakan oleh Kebab Reading pada 28  November kemarin, saya menangkap banyak sekali pesan dari para peserta diskusi yang menyatakan dirinya didukung penuh oleh buku ini. Kegamangan-kegamangan yang dihadapi ternyata bersumber dari konstruksi sosial dan didukung penuh oleh masyarakat. Kenyataannya, di sekitar kita justru banyak perempuan yang tidak sadar mendiskreditkan perempuan lainnya. Mulai dari standar kecantikan, standar akademis, standar menjadi istri yang baik, atau juga standar menjadi ibu yang sempurna.

Buku ini dimulai dengan sejarah panjang teori-teori yang berkaitan dengan psikologi feminis lewat bagian Psikologi Feminis: Apa dan Bagaimana.  Bagi saya tak masalah. Tentu kita harus memulai dengan sebuah pijakan sebelum melangkah lebih jauh untuk mengenal diri sendiri. Ada pengetahuan mengenai penis envy, kompleks Oedipus hingga kompleks Elektra. Dibahas pula mengenai teori-teori Erikson, Jung, Freud, hingga Sabina Spielrein.

Yang paling menarik bagi saya tentu saja bagian kedua yang membahas Psike Perempuan: Semesta yang Tak Terlihat. Pada bagian ini, Mbak Ester tampak menguliti lapis demi lapis keperempuanan seseorang (hasyah, bahasanya ribet banget).

Ada serigala betina dalam diri setiap perempuan. Ini pesan yang saya tangkap dari karya Estes. Jika banyak perempuan tidak menyadarinya, itu karena keliaran perempuan sejak lama ditekan oleh masyarakat. Liar bukan dalam makna negatif yang merendahkan, seperti tak terkendali. Liar mengandung arti kebersatuan dengan alam: menjalani kehidupan secara alami, mengikuti irama kehidupan dan aspirasi yang terdalam.

Jangan bayangkan perempuan liar sebagai sosok yang mengerikan. Ia adalah pribadi yang hangat dan otentik. Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Tidak berpura-pura menikmati persahabatan hanya karena khawatir tidak punya teman. Ia pun tidak takut dengan penolakan sosial.

Wkwkwk.

Saya merasa sedikit tertohok ketika membaca ini. Dalam kurun waktu lima bahkan sepuluh tahun ke belakang, saya masih berada dalam kondisi kompleks-kompleks seperti ini. Takut ditolak. Takut tidak dianggap cantik. Takut tidak dianggap pintar. Takut berbicara dan mengutarakan pendapat di depan orang. Takut dibenci. Takut ditinggalkan. Masih banyak takut-takut lain yang saya hadapi untuk bisa sampai di titik ini.

*menghela napas*

Buku Mbak Ester bener-bener deh!

Satu bab lagi yang membuat saya terperangah adalah bahasan mengenai perempuan penyihir. Selamat bagi saya. Ternyata saya adalah perempuan penyihir di abad ini dan saya menerima pembantaian-pembantaian tersebut bahkan dari lingkup keluarga yang paling dekat. Hohoho. Setelah membaca bab ini, saya membayangkan bahwa dulunya, mungkin saja saya benar-benar penyihir yang hidup di abad pertengahan. Yang membawa sapu terbang, melatih perempuan lain mengenali dan peka terhadap tubuhnya sendiri, juga mengobati orang-orang dengan ramuan ajaib yang saya temukan bahan bakunya di hutan-hutan terlarang. Bisa jadi bukan? Hal ini yang membuat saya sangat jatuh cinta dengan dunia folktale dari seluruh dunia.

 Akan tetapi, berapa pun usia perempuan lajang, kita tidak akan pernah menerima ide bahwa perempuan-perempuan ini bisa bahagia, apalagi lebih bahagia dibandingkan mereka yang menikah dan punya anak. Kita menganggap hidup mereka kering, depresif, dan pasti ada yang “salah” dalam perjalanan hidupnya sampai kok bisa tidak menikah.

Perempuan sendiri masih hidup dalam angan-angan bahwa pria impiannya akan datang, si pangeran tampan berkuda putih. Harapan itu bisa membuat perempuan putus asa ketika waktu berlalu, tetapi ia belum menemukan pasangan.

Perempuan dibebani dengan kewajiban menikah untuk membahagiakan orang tua. Dalam masyarakat yang menuntut balas budi anak sebagai bentuk bakti kepada orang tua karena sudah dilahirkan dan dibesarkan, perempuan diliputi rasa bersalah jika belum atau tidak bisa menyenangkan orang tua dengan melakukan pernikahan.

Seringkali desakan ini tidak dinyatakan secara langsung, tetapi dalam bentuk yang menurut saya bisa kita lihat (lagi-lagi) sebagai kekerasan psikologis. Misalnya orang tua yang tidak mau makan karena memikirkan nasib anaknya yang tidak kunjung menikah. Atau orang tua yang bercerita kepada paman dan bibi sampai menangis memikirkan anaknya yang belum menikah. Hal-hal semacam ini yang membuat perempuan tertekan. Perempuan tidak tertekan oleh kelajangannya, ia tertekan oleh pandangan dan perilaku orang-orang di sekitarnya terkait dengan kelajangannya.

Buku Mbak Ester memang bener-bener deh!

Dah ah. Kalau kalian tertarik, harus belii dan buktikan kalau kalian juga bisa mengumpat-umpat kayak saya setelah membaca buku ini.

I love you, Mbak Ester. Thank you for writing this book!

Cerita sehari-hari

Betapa Menyenangkan Bersyukur Itu~

Sebelum berangkat tidur, saya mengingat-ingat sesuatu. Pada postingan terakhir saya berucap ingin membenturkan kepala ke dinding. Rupanya Tuhan berbaik hati. Mungkin Ia berkata, “Makanya, jangan ngomong sembarangan. Kebanting baru tahu rasa, kan?”

Saat ini pukul sembilan malam. Lampu sudah dimatikan. Air mata saya meleleh. Bukan karena nyeri. Nyeri sih, sedikiiit. Air mata saya menetes karena berusaha mengingat lagi posisi saat saya terkapar di jalan. Dua kali kecelakaan dengan posisi yang sama tetapi dengan refleks yang berbeda. Saat SMA, saya mengendarai sepeda dan motor menabrak dari arah kanan saya. Setang sepeda saya berputar hingga 180 derajat dan langsung ringsek. Saya? Jangan ditanya. Kata teman yang posisinya berada di belakang sepeda saya, “Dwi terbang—lalu pingsan!”

*menangis*

Kemarin, sepeda (motor) saya ditabrak persis dari sebelah kanan. Saya terbang (lagi) dan terpelanting. Posisi kepala menghadap ke langit. Yang terpikirkan saat itu adalah, betapa birunya langit. Betulan deh. Saya tidak kehilangan kesadaran. Hanya saja, saat mau bangkit berdiri, saya sudah kepayahan. Asoy rasanya setelah kepala dan badan menghantam aspal duluan. Untungnya helm sudah SNI dan klik dong. Rasanya badan kaku. Mau menggerakkan jempol kok ga bisa. Saya dipapah menuju warung pecel tepat di depan TKP.

Di sana, saya dibaringkan di meja kayu. Posisi tas masih di bahu saya. Alamak! Saya teringat laptop dalam tas. Terjatuh dalam posisi berbaring otomatis membuat saya menindih laptop saya. Benar saja. Laptop saya retak di bagian ujung.

*menangis lagi*

Saya menelepon si Mas yang sedang berada ribuan kilometer jauhnya. Ia menyuruh saya meminta bantuan teman kantor untuk mengantarkan saya kembali ke rumah. Bukan apa-apa, tangan saya yang kanan tidak bisa digerakkan. Rasa-rasanya tidak mungkin mengendarai motor sendiri.

Hari itu ditutup dengan merutuki diri sendiri. Kok bisa-bisanya ditabrak? Entahlah saya pun tidak tahu. Yang jelas dan paling terasa adalah nyerinya. Saya tidak berdarah-darah. Tapi tangan dan jari-jari kanan saya tidak bisa digerakkan. Hahaha.

Pelan-pelan, saat di rumah, saya segera minum obat pereda nyeri. Makan sebanyak-banyaknya. Minum sebanyak-banyaknya. Mengoleskan obat nyeri ke bagian-bagian tubuh yang Subhanallah rasanya. Pinggang, punggung, bahu, paha, lutut, tulang kering, dan jari-jari. Banyak, ya? Hahaha.

Begitu malam datang, saya mencerap rasa sakit yang lumayan. Saya menyadari betapa nikmat itu terasa saat kita sedang berada dalam penderitaan. Saya bersyukur saat sehat bisa berolahraga, stretching sederhana, atau ikut kelas yoga. Dalam keadaan begini, sensor motorik halus tangan kanan saya kurang bisa bekerja. Saya kesusahan membuka pakaian, memakai baju kaos, mengancingkan kancing baju, mengangkat gayung untuk mandi (wkwkw), memencet sabun cuci tangan, bahkan mengelap wajah sendiri pun susah sekali. Saya kesulitan mengetik, menulis menggunakan pulpen, memotong makanan menggunakan sendok atau pisau, mencuci piring, memeras pakaian basah, atau menyapu.

Percayalah, saya rindu melakukan hal-hal sederhana itu tanpa mengernyitkan kening karena cenut-cenut seperti kesetrum kecil.

Cerita sehari-hari

Kepalaku, Batu

Tulisan ini saya buat di malam hari, pukul dua, saat saya baru saja terbangun setelah mendengar suara ramai-ramai di balik pintu kamar saya. Saya tidak sedang berada di rumah. Sekian ratus kilometer jauhnya. Ada di satu kota yang asing—tidak terlalu asing. Antara keduanya. Tidak asing karena ini bukan kali pertama saya di sini. Asing karena rasanya di dalam hati begitu. Bagi saya, menyerap perasaan-perasaan seperti ini cukup penting. Saya merasa asing karena sepi, dinding yang juga dingin seperti memeluk saya di belakang. Saya tak pernah menyalakan pendingin ruangan saat berada di kamar ini.

Di luar ruangan ramai, tapi kamu merasa ada di dimensi lain. Yang berbeda. Yang jauh dari mana-mana. Saya memutuskan menjaga kewarasan dengan menulis ini dan memutar musik apa saja. Konser musik yang ada di Youtube. Suara ingar bingar penonton mampu membuat ramai. Ya, setidaknya begitu.

Saya tahu, musuh terbesar saya adalah kemalasan saya sendiri. Kemalasan menulis. Kemalasan mencatat ide-ide yang berkelebat lewat. Kepala saya melupakan sesuatu dengan gampangnya. Ketika menyadari bahwa saya melewatkan sesuatu yang harusnya saya ingat—saya pikir akan lebih gampang jika saya langsung membentur-bentukan kepala ke dinding. Supaya saya bisa ingat apa saja dan tentu saja tidak melupakannya dengan begitu mudah.

vers libre

hujan turun dalam kepalaku

Terbangun gigil karena hujan turun dalam kepalaku
sementara telinga menangkapnya ricik-ricik
seperti kamu yang mengendap perlahan
dan membuka segala tabir kenangan

Hujan turun dalam kepalaku
seperti gerimis basah sepulang kerja
kemeja basah dan asap knalpot yang membeku
juga seikat bayam yang kubeli seharga lima ribu

Hujan tiba setelah matahari beringsut turun menuju senja
dua kekasih yang dipertemukan setelah lama terpisahkan
gelap dan terang
basah sekaligus hangat

Hujan turun membawa sukacita
berkat bagi semua

vers libre

Rumah di musim hujan

genting bertanya pada pucuk-pucuk sukun yang gundul
mengapa angin mengetuk-ngetuk semalaman
sampai ia jatuh tertidur di pagi buta
menunggu matahari yang tak kunjung tiba

hujan ricik membawa air mengalir menembus batang rerumputan
menuju selokan di depan rumah
yang diisi oleh kapal-kapalan
yang melayarkan rindu menuju satu pelabuhan

pagi hari selimut menawarkan diri
jangan berangkat dahulu
sebelum menuntaskan rindu
tapi bagaimana caranya menuntaskan rindu
pada dinding kamar yang beku?

vers libre

kembang mekar

Ada sebuah danau luas
kamu tidak bisa berenang
hanya bisa berteriak
sambil membawa senapan
dan membunuh anak-anak kecil
yang ada di dalam dirimu

Kamu tidak bisa menangis
tapi alis menggugurkan helai bulu mata
diam-diam dalam sepi

Kamu tidak bisa teriak
karena mulutmu dikunci rapat
membayangkan naik bus keliling kota
seperti piknik anak-anak TK
alangkah senangnya

Kamu tidak bisa bernapas dalam air
sementara gelembungnya memecah
suaramu termampatkan di dalamnya

Kamu,
barangkali sejuta anak dalam dirimu
tumbuh dan bermekaran satu demi satu