Qurantine Day 20

Lebaran yang Aneh

Ada saat-saat tertentu di mana saya merasa terkoneksi dengan sesuatu di masa lalu. Sesuatu yang jauh, tapi terasa dekat. Sesuatu yang kelu, misalnya saat melihat ke langit biru dan merasa betapa kecilnya manusia. Sesuatu yang aneh, menggelitik, tetapi kemudian membuat sedih.

Lebaran ini seperti biasa. Tidak pernah sama sejak terakhir 2012 silam. Banyak orang mengatakan, “Ah, lebay,” atau, “Ah, biasa saja, kok. Kamu saja yang terlalu perasa.”
Justru itu. Itu masalahnya. Saya merasa, makin tua makin sulit menangkap gejala-gejala atau mendeskripsikan perasaan yang ada. Makin tua, makin tidak punya sahabat. Haha. Jelas saja sih ya. Kecuali keluarga inti dan pasangan, rasanya makin sulit menceritakan sesuatu haha hihi dengan teman.

Lebaran kali ini kami nyekar ke makam Mbah di Desa Lampur. Dua Mbah dari pihak Mamak dimakamkan di pekuburan awal masuk perkampungan. Jaraknya sekitar 39 km dari rumah.

Sebagaimana kampung lainnya bagi sebagian besar cucu, Lampur menyimpan banyak keping ingatan saya. Untuk mencapai Lampur saat saya masih kecil dulu hanya bisa menggunakan mobil colt. Perjalanan cukup panjang, bisa 3-4 jam. Di Lampur belum ada penerangan listrik. Rumah Mbah hanya disinari lampu stromking. Tidak ada televisi, hanya ada radio. Saat di rumah Mbah, saya selalu mendengar siaran radio Misteri Gunung Merapi. Bahkan tawa kekeh Mak Lampir kadang masih terekam dalam ingatan. Selain itu, saya juga membaca koleksi Wiro Sableng dalam bentuk jadul di rumah Mbah. Judul yang paling terngiang adalah “Banjir Darah di Tambun Tulang”. Selang bertahun kemudian, saya yang mendalami folklor menemukan bahwa Bukit Tambun Tulang ternyata sangat terkenal baik di pedalaman Sumatera pedalaman maupun di Bangka khususnya. Yap, Bukit Tambun Tulang lengkap dengan mitos-mitosnya ada di Gunung Maras, Pulau Bangka.

Setelah mengunjungi Mbah, kami mampir ke rumah adik-adik Mamak yang ada di sana. Lampur tidak banyak berubah bahkan dari tahun ke tahun. Dahulu kampung ini adalah primadona. Saat PT. Timah meninggalkan tempat ini karena dinilai sudah tidak ada lagi cadangan timah, kondisi meredup. Suram. Sepi. Seperti perempuan yang ditinggalkan karena sudah tidak cantik atau tidak menarik lagi. Menyedihkan.

Kini, orang-orang berjuang dengan caranya sendiri. Berkebun lada, menanam sawit, karet, atau singkong. Pokoknya apa saja. Yang menambang timah, tentu masih ada. Tambang timah inkonvensional namanya (TI). Tentu saja memang harus bekais alias mengais-ngais hanya dapat sisa-sisanya saja. Anak-anak harus berjuang sekolah, meneruskan pendidikan. Jika tidak, ya kehidupan tidak akan berubah. Hanya berkutat -dalam lingkaran setan terus-menerus.

Terkadang, hal yang mengesalkan adalah yang membuat sedih dalam waktu bersamaan. Dalam wajah adik-adik Mamak, saya melihat kesedihan, kesusahan. Tapi di sana juga ada sesuatu yang membuat saya seperti, “ah, bagaimana sekarang? ah, apalagi yang akan dilakukan sekarang?” Sesuatu yang membuat kesal dan sedih beberapa tahun belakangan.

Entahlah. Tuhan yang punya rencana. Maka serahkan pada Dia dan alur waktu yang akan membawa kita hingga di titik mana.

Cerita sehari-hari

2022 dan frustrasi kita

Hai! Sudah tahun 2022 dan ini adalah postingan perdana di tahun ini. Semuanya berjalan begitu cepat sampai-sampai agak engap nih.  

Saya kerap mempertanyakan; kenapa jalannya seperti ini? Kenapa jalur ini yang saya lewati? Apa yang menunggu di depan?

Tentu saya hanya manusia biasa dan tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Butuh waktu untuk merenungkan. Kenapa ada yang namanya lini waktu? Supaya kita dapat mempersiapkan diri. Beberapa waktu lampau, saya kerap protes pada Tuhan. Kenapa sih waktu berjalan lama sekali. Saya mau cepat sampai ke titik X, Y, atau Z. Sampai kekasih saya harus bilang, “Sabar. semua ada waktunya.”

Pandemi tak kunjung selesai dan bhaaam! Nah, lho. Makanya jangan sok-sokan. Mungkin begitu kata Tuhan.

Saat ini, begitu banyak yang terjadi. Sampai-sampai membuka televisi atau media sosial bahkan membuat lelah, capek, bahkan mual.

Di masa-masa yang sulit ini, siapa saja membutuhkan pertolongan. Di masa-masa sekarang, siapa saja kehilangan teman. Yang tidak boleh dilakukan adalah kehilangan harapan.

Sungguh, perasaan saya sedang tidak baik-baik saja. Saya ingin memeluk orang yang saya sayangi. Saya ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi tentu saja menulis hal seperti ini akan terasa lebih mudah ketimbang melakukannya.
Setiap hari, kita mengalami kesedihan, kekecewaan, bahkan kemarahan. Karena kita toh manusia–bukan malaikat–dan itu wajar.
Setiap hari, saya hanya bisa berdoa. Semoga makin banyak kekuatan diberikan pada kita. Semoga terang jalan yang dilalui. Semoga kuat menopang hidup dan kehidupan orang lain yang bergantung pada kita. Semoga badai dapat berlalu dan kita semua mampu pulih dengan baik.

Catatan Perjalanan

Bali, Between Hello and Goodbye!

Maafkan kenorakan saya. Karena baru pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Dewata, saya tidak habis-habisnya bersyukur. Yah, meskipun tidak dalam rangka liburan, alias ini sih my trip my sppd, ya tetap saja jiwa saya meronta-ronta kenorakannya.

Sebelum berangkat, saya sudah mengontak teman saya yang tinggal di Bali. Saya katakan, dengan kemungkinan jadwal acara yang sangat padat, rasanya sulit untuk keluar jalan-jalan bahkan. Karena status saya sebagai panitia kegiatan empat hari tidak memungkinkan saya meninggalkan kelas yang harus diurus. Benar saja, akhirnya saya menghabiskan waktu full hanya di sekitaran hotel. Kebetulan pada waktu itu kami mengadakan acara di Merusaka, Nusa Dua, Bali (formerly Inaya Putri Bali).

Saya tiba di Denpasar pukul 17.40 WITA. Dengan posisi bandara yang dekat dengan laut, saya bisa melihat sunset dari jendela saya. Rasanya? Saya tidak bisa menggambarkannya. Hanya saja, saat itu saya mengenang orang yang saya kasihi dan berkata dalam hati, “Jika saya bisa membagikan kebahagiaan ini bersama orang yang saya cintai, mungkin rasanya akan berlipat-lipat lagi.”

sunset dari jendela

Saya adalah orang terakhir yang turun dari pesawat. Sampai-sampai Pak Supir yang menjemput berulang kali menelepon untuk memastikan posisi saya berada di mana. Kemudian saya diantarkan menuju lokasi acara. Saat tiba, kondisi sudah gelap sehingga agak kesusahan bagi saya untuk memfoto. Sudah ada rundown acara yang menanti saya untuk empat hari ke depan.

Sebelum memutuskan memilih Merusaka Nusa Dua sebagai lokasi kegiatan, panitia sudah berulang kali berdiskusi mengenai pemilihan tempat. Yang dibutuhkan adalah hotel yang mampu menampung ratusan peserta kegiatan dengan venue yang sangat besar untuk pertemuan pleno. Setelah dilakukan survei lapangan, dipilihlah Merusaka ini.

Puri 7 a.k.a Puri Saraswati

Saya dan teman sekamar saya, Mba Jiji ditempatkan di Puri Saraswati. Selama 4 hari di Bali, saya harus akui, saya melakukan olahraga kaki cukup intens. Bukan tanpa alasan, jarak antara kamar, ruang makan, dan aula pertemuan sangat jauh. Dalam sehari, rata-rata saya bisa mencapai 7000-8000 langkah. Jumlah yang jauh meningkat jika dibandingkan aktivitas di rumah atau kantor. Sebenarnya hotel ini menawarkan mobil golf untuk transportasi antartempat. Tapi ya keder sama yang lansia-lansia lah. Masih bisa jalan santai tapi malah pilih menggunakan mobil golf :>

Bagi saya, hotel ini bagus, tapi tidak hangat. Tidak homey. Fasilitas yang dimiliki sangat lengkap. Tapi membayangkan untuk membawa orang tua ke sini, akan jadi PR. Anak-anak mungkin akan senang dengan fasilitas kolam renang yang seabrek-abrek alias banyak banget kalau mau nyemplung. Di sini ada, di sana ada. Belum lagi akses dekat menuju pantai. Sepertinya ini memang menyasar pasangan muda, yang masih fit, yang membutuhkan privasi dan kenyamanan tanpa ingin diganggu oleh orang-orang. Haha.
Selain itu, dengan privasi yang dijaga superketat, akan sangat sulit memesan pengantaran makanan dari luar karena akan melewati screening pengawasan dari pihak keamanan. Agak repot ketika tidak terbiasa dengan jenis masakan khas Bali dan ingin memesan sesuatu dari luar hotel.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, hotel ini punya akses langsung menuju pantai. Di pagi hari dan sore hari, ramai orang-orang datang berkunjung. Ada ibu-ibu yang menawarkan jasa memijit, sayangnya saya tidak sempat mencobanya. Karena saya anak pantai, sebenarnya tidak terlalu menarik melihat pantai di deretan pantai Nusa Dua ini. Karena sebenarnya sama saja dengan yang ada di dekat rumah. Saya berharap dalam kunjungan berikutnya ke Bali, saya bisa mengeksplorasi gunung atau hutan yang ada. Aaaakk…

Padatnya jadwal acara tidak memungkinkan saya untuk bahkan keluar dari hotel. So sad, but it’s okay. Toh perginya saya ke Bali memang diselenggarakan dalam kerangka perjalanan dinas. Wkwkw. Banyak hal yang sepertinya saya keluhkan ya? Percayalah, saya sangat bersyukur bisa berangkat ke Bali dan melihat banyak orang, berkenalan dengan orang baru dengan kepribadian baru, dan bertemu banyak orang baik.

Sekali lagi! Matur suksma, Bali! Till we met again in another occasion, yaa~~

Cerita sehari-hari, Qurantine Day 20

Desember dan Awal Perjalanan

“Perjuanganmu dan jalanmu masih panjang. Kuat-kuatlah.”
Ketika membaca pesan ini, saya menitikkan air mata. Cengeng, ya? Haha.
Saya tidak tahu, Tuhan begitu baik pada saya. Di Desember, saya mendapat banyak hal, banyak kebaikan, banyak kesempatan, banyak jalan baru terbuka, banyak dukungan, banyak cinta dan kasih yang saya terima. Untuk itu, saya perlu berterima kasih banyak-banyak. Saya merasa, apa ya, diberi banyak keberuntungan.

Saya pernah membaca sebuah postingan di Instagram. Tentang resolusi di tahun baru.

Saya tidak muluk-muluk meminta apa yang saya inginkan di tahun depan. Saya ingin memulai sekarang. Saya mulai membaca lagi. Menulis lagi. Belajar lagi. Tidak semua orang diberi kesempatan seperti saya. Karena saya tahu, yang paling berharga adalah waktu. Waktu tidak pernah berjalan mundur. Waktu yang sudah dilewati, waktu yang berharga, tidak bisa kembali.

recalling memories

Dreamless Sleep~

Socrates menyebut bahwa death is like a dreamless sleep. Terdengar menyenangkan bukan. Tapi apakah kematian benar-benar semenyenangkan itu?  Sebagai muslim, saya juga sering mendengar bahwa tidur adalah sebuah kematian kecil. Oleh karena itu, jika bangun tidur, doa yang dibaca adalah ungkapan terima kasih bahwa Tuhan telah menghidupkan setelah mematikan, dan hanya kepada-Nya tempat kembali. Sederhana, kita dihidupkan setelah dimatikan. Indah, tapi sebenarnya mencekam.

Saya sedang membaca sebuah buku yang bagi saya lumayan berat, tetapi membuat saya ter-wow-wow. Judulnya The Oxford Handbook of Philosophy of Death. Dalam buku ini, dijabarkan berbagai definisi tentang kematian yang disampaikan oleh para filsuf mulai dari Socrates, Plato, Aristoteles hingga profesor-profesor di dunia akademik modern saat ini. Dalam bagian pengantar, ada sebuah pernyatan yang disebut Termination Thesis. Pernyataan ini dibuat Feldman pada tahun 1992 dan dikatakan bahwa ada 3 premis utama:

  1. When a person dies, he or she loses the property of being a person
  2. When a person loses the property of being a person, he or she ceases to exist
  3. Therefore, when a person dies, he or she ceases to exist

Ibu saya wafat saat saya masih berumur 21 tahun. Sebuah angka yang sepertinya bisa dianggap sudah cukup dewasa padahal sebenarnya tidak juga. Saya masih sibuk dengan diri sendiri. Kabar kematian Ibu saya terima pukul dua dini hari. Masuk rumah sakit di sore hari, lalu dibawa ke kamar rawat inap, dan meninggal di pukul 11 malam. Saking cepatnya rentang waktu, sepertinya otak saya tidak bisa merekam dengan baik apa yang saya rasakan pada saat itu.

Waktu Ibu telah tiada, saya mengumpulkan potongan-potongan puzzle. Kenangan, kebiasaan, perbuatan, apa saja yang bisa mengingatkan saya kepada beliau. Anehnya, saya merasa Termination Thesis di atas kurang sesuai. Karena justru ketika seseorang meninggal, orang tersebut menjadi eksis. Menjadi tetap hidup. Abstrak sekali bukan? Aneh rasanya, tetapi bagi orang-orang yang pernah merasa kehilangan. Hal ini akan sangat relevan. Semakin banyak tahun dilewati, orang itu semakin hidup, semakin nyata. Bagi saya, kenangan masa kecil, bau hujan di halaman rumah, tiap bagian rumah yang dulu ditinggali semakin terlihat bagian-bagiannya. Semakin cerlang. Rumah yang kini tidak kami tempati lagi, tempat menghabiskan masa kanak-kanak malah makin sering masuk ke ingatan dan pikiran.  Lucunya, aktornya adalah saya yang telah mendewasa tetapi bagian yang mengingatkan akan hal tersebut adalah potongan ingatan saya di masa kanak-kanak.

Saya tidak tahu, tapi keinginan saya saat ini adalah menciptakan banyak kenangan untuk orang-orang yang saya cintai dan kasihi. Yang baik untuk dikenang. Yang mengendap lama di ingatan. Yang membawa orang-orang tercinta mengingat detail kasih atau sayang yang kita berikan. Semoga kita semua masih diberi banyak kesempatan.

Catatan Perjalanan, Qurantine Day 20

membaca kasih

suara-suara yang awalnya terdengar asing
kian lekat
seperti engkau mendengar suara dari masa lampau
sementara orang-orang tua membaca dari matamu
menggenggam tanganmu
dan mendoakan hidupmu
lebih panjang, lebih bersinar daripada sebelumnya

engkau bertanya, engkau menemukan jawaban dari mereka
tapi ternyata dalam hatimu, engkau adalah jendela
masih menerima suara-suara riuh
suara bocah memanggil nama ibunya
bergema di hatimu

kasih sayang, serupa matahari
ia memberi hangat
sampai hatimu tumpah ruah dengan rasa gembira
engkau memberi ruang makin besar
untuk menerima kasih
dan berjanji akan melipatgandakannya

Catatan Perjalanan, Cerita sehari-hari

Membicarakan Kematian

Hari ini, saya menempuh perjalanan 2 x 58,1 kilometer jauhnya dari rumah menuju rumah adik saya yang berbeda kabupaten. Dalam perjalanan, beberapa kali hujan turun. Hujan datang dan pergi. Di saat saya pikir hujan berhenti, beberapa saat kemudian ia kemudian datang lagi. Barangkali kami memang harus dihajar hujan bertubi-tubi.

Dalam perjalanan, pikiran saya mengawang. Dengan kelajuan motor di atas rata-rata, saya perlu mencubit Bapak saya. Saya katakan, tak perlu mengejar waktu. Tak ada yang diburu waktu.

Saya tidak tahu pastinya sejak kapan. Tetapi, saat berkendara, saya selalu memikirkan bagaimana jika ini adalah saat terakhir saya. Bagaimana jika saya mendapati diri saya tergelincir di jalanan aspal berpasir, dengan mulut berlumuran darah dan gigi depan yang patah? Bagaimana jika saya sudah tertib berkendara, sementara dari arah berlawanan ada pengendara yang semena-mena? Bagaimana jika setang saya ditabrak dari arah kanan sehingga saya terbang dan terpental?

Sebelum naik pesawat pun, saya makin diliputi ketakutan. Bagaimana jika ini adalah saat terakhir saya? Sejak laporan air crash investigation JT610 keluar, saya makin berpikir keras. Mungkin saja saya akan mati di udara, bahkan sebelum puing-puing pesawat menubruk tanah atau samudra.

Pertanyaan yang sering mampir di kepala saya. Bagaimana jika saya menghilang? Mati? Di jalan? Di tempat tidur? Di mana saja?

How much do we fear death?

Pertanyaannya mungkin juga akan seperti ini. Mengapa kita begitu takut dengan kematian?

Saya jadi ingat kata-kata Gong Yoo kepada Park Bo Gum dalam film terbaru mereka, Seobok.

“I’m not sure whether I really want to live or am I just afraid to die,”

Bo Gum adalah seorang manusia kloningan pertama di Korea (tentu saja) yang berhasil diciptakan setelah riset panjang sepuluh tahun ke belakang menggunakan manipulasi genetik dan kloning stem cell. Sel yang dimiliki Bo Gum dipercaya bisa menyelamatkan manusia yang sedang sekarat sehingga bisa sembuh seperti sedia kala. Sebagai manusia kloningan, dia berumur panjang, alias akan abadi. Tetapi, justru itu masalahnya. Bo Gum malah ingin mati layaknya manusia yang lain.

Dalam film Seo Bok, Bo Gum bertanya pada Gong Yoo, “Bagaimana rasanya sekarat?”

It sucks. The feeling is sucks,” begitu jawaban  Gong Yo.  

“’Jadi, apakah hidup itu terasa menyenangkan?” tanya Bo Gum kembali.

(((hening)))

Saya rasa, saya juga akan kesulitan menjawab pertanyaan Bo Gum.

Apakah hidup itu menyenangkan? Apakah kita bahagia dengan hidup kita? Apakah hidup kita cukup?

Kathryn James dalam Death, gender, and sexuality in contemporary adolescent literature terbitan Routledge membahas juga perkara kematian. Bagaimana kita “membaca” kematian? Tentu saja kematian sejauh ini hanya bisa direpresentasikan. Dalam pandangan Bronfen, representasi kematian secara naratif dan visual dapat dibaca sebagai suatu simptom budaya atau common cultural image repertoire. Sementara bagi Kearl, kematian dapat didefinisikan sebagai sebuah ide yang terkonstruksi secara sosial, “the fears, hopes, and orientation people have regarding it are not instictive, but rather are learned from such public symbols as the language, arts, and religious and funerary rituals of their culture.”

There can be no discussion of death without a references to live, vice versa~~

Barangkali yang ingin disasar dalam dialog antara Gong Yoo dan Bo Gum dalam film Seobok bukanlah kematian dalam arti harfiah suatu organisme. Tidak hanya fungsi vital suatu organisme yang mati, kematian juga dapat kita lihat dari meredupnya suatu kekuatan (power), atau hilangnya suatu nilai atau prinsip (lack of value), dan juga yang tak kalah penting yakni matinya sebuah harapan (hopes).

Hidup dan mati adalah dualitas. Tak bisa kita pisahkan. Sejak manusia lahir pun, kematian adalah bayang-bayangnya. Tentu saja hal ini sangat menarik. Barangkali saya harus lebih banyak mengkaji perkara hidup dan kematian ini.

Cerita sehari-hari, Qurantine Day 20

Akhirnya Jadi Penyintas Covid-19

Tanggal 22 selesai isolasi mandirii! Yeayy!!!

Ngerasain juga jadi penyintas Covid-19 di tahun 2021 ini.

Kalau ditanya gejalanya apa, mon maap, saya masuk kategori asimptomatik alias orang-orang ga jelas yang tanpa gejala alias OTG. Tapi apakah benar-benar tidak merasakan gejalanya? Atau gejala yang ada cenderung diabaikan?

Hmm, baiklah. Mari kita mulai dengan kronologinya.  

Lanjutkan membaca “Akhirnya Jadi Penyintas Covid-19”
review

Laptop Ciamik dan Riset Budaya 2021~

Sudah tiga bulan berselang sejak awal tahun 2021. Pandemi masih berlangsung dan kata-kata New Normal sepertinya masih akan terus terngiang di telinga kita setiap harinya. Banyak hal yang ternyata harus diubah sejak pandemi Covid-19 datang menghantam, utamanya kebiasaan yang sering dilakukan. Bagi staf peneliti di salah satu kementerian seperti saya, istilah WFH (work from home) pun tidak akan terasa jauh. Sebagai salah satu upaya menurunkan tingkat penyebaran Covid-19, pertemuan-pertemuan yang melibatkan orang banyak tentunya sudah setahun ini dikurangi. Pertemuan lebih banyak diadakan secara daring (dalam jaringan/online). Hal ini pun membuka kesempatan bagi orang-orang dari seluruh penjuru Indonesia untuk ikut bertemu secara virtual.

Sejak beberapa tahun belakangan, saya rutin menulis resolusi. Saya ingin mencatat pengalaman-pengalaman, harapan, dan juga doa. Akan tetapi pandemi memutarbalikkan semua tatanan kehidupan manusia dengan sangat cepat. Resolusi-resolusi yang menjadi harapan setiap tahun tiba-tiba saja menguap begitu saja. Tetap saja, tahun ini saya masih menulis resolusi saya. Untuk alasan apa? Tentu saja demi menyalakan semangat agar tetap pada tempatnya.

Apa saja yang mau saya lakukan di tahun ini?  Hmm, mungkin jawabannya seperti ini.

  • Melakukan riset budaya sastra lisan

Sebagai seorang peneliti budaya, hal yang paling membahagiakan adalah turun lapangan, bertemu para pelaku budaya dan praktisi, menggali informasi, dan mengeksplorasi tempat-tempat baru yang bahkan belum pernah didatangi sebelumnya. Untuk mendukung hal tersebut, saya membutuhkan sebuah perangkat yang multifungsi dan menawarkan performa ciamik. Itu alasan mengapa saya membutuhkan ASUS ZenBook Flip S (UX371).

Ketika berada di lapangan, saya harus berhadapan dengan kondisi-kondisi yang tak terprediksi. Bisa saja saya harus berada di perjalanan dalam rentang waktu yang panjang sehingga tidak dapat menemukan listrik sebagai sumber daya. Laptop ini digadang-gadang dapat bertahan 15 jam pemakaian normal. Bagi saya, ini cukup membantu kondisi darurat di lapangan. Tentu saja waktu pemakaian laptop selama itu tidak dapat begitu saja diremehkan. Selain itu, jika kehabisan daya, laptop ini bisa diisi ulang dengan menggunakan bank daya portabel (power bank) berkat fitur USB-C Easy Charge yang dimilikinya. Alangkah mudahnya!

(https://www.asus.com/id/Laptops/For-Home/ZenBook/ZenBook-Flip-S-UX371-11th-Gen-Intel/)

ASUS ZenBook Flip S (UX371) juga memiliki beberapa keunggulan yang saya rasa sangat tepat menemani mobilitas saya dalam beraktivitas. Dengan kode S yang melekat pada namanya, menunjukkan bahwa laptop ini slim and sophisticated yang artinya ramping dan canggih. Selain itu, ketebalan laptop ini hanya 13,9 mm dan bobotnya pun seberat 1,2 kg. Tak akan sulit bagi saya menenteng tas ransel berisi laptop ini di dalamnya.

Komputer masa kini memiliki tampilan berbeda karena mereka memang berbeda. Dengan solid-state drive (SSD) dan teknologi terkini, Anda mendapatkan kecepatan, keamanan, ketahanan, dan desain yang cantik. Kami telah melakukan jajak pendapat, dan hasilnya, orang-orang lebih senang saat bepergian dengan PC modern.

(https://www.asus.com/id/Laptops/For-Home/ZenBook/ZenBook-Flip-S-UX371-11th-Gen-Intel/)

Saya membutuhkan sebuah perangkat yang ringan, ringkas, dan punya kemampuan penyimpanan yang lega. Bagi saya, ukuran layar ASUS ZenBook Flip S (UX371) sebesar 13,3 inch adalah ukuran yang pas dengan resolusi 4K/UHD (3840 X 2160 pixel). Laptop ini juga dikemas dengan komponen berperforma tinggi, termasuk kehadiran prosesor Intel Core i7 Generasi ke-11 terbaru (2.80GHz quadcore dengan Turbo Boost hingga 4.70 GHz), grafis Intel Iris Xe, dan RAM berkecepatan tinggi hingga 16 GB. Sementara itu, hal penting lainnya bagi seorang peneliti adalah kehadiran laptop dengan kapasitas penyimpanan yang bisa memuat banyak data-data riset. Laptop ini hadir dengan media penyimpanan hingga 1 TB SSD M.2 Pcle NVMe. Apa lagi yang saya harapkan?

  • Menulis cerita anak

Resolusi kedua saya tahun ini adalah membuat buku cerita anak berdasarkan riset yang telah dilakukan. Saya membayangkan akan menjangkau lebih banyak orang dengan menulis. Karena kecintaan saya terhadap budaya, sastra lisan, dan folklor, membuat saya tertarik menuliskan cerita untuk anak-anak. Untuk mendukung hal ini, saya membutuhkan perangkat yang ringkas dan dapat membantu saya mencatat ide-ide kreatif di mana pun saya berada.

PC modern juga dilengkapi dengan pena digital yang memiliki banyak manfaat. Sentuhan khas tercipta saat Anda membuat sketsa atau coretan pada dokumen dengan pena digital. Penelitian juga menemukan adanya peningkatan kinerja hingga 38% pada pelajar ketika mereka menggunakan pena digital untuk mengerjakan soal-soal sains. Tidak semua ide berupa kalimat, kini saatnya untuk tuangkan inspirasi segera dalam sketsa atau coretan pena digital di PC modern.

Laptop ASUS ZenBook Flip S (UX371) terlihat makin menarik bagi saya karena dapat diputar 360º dan digunakan layaknya sebuah tablet. Layar sentuh (touchscreen) makin membuat laptop ini tampak berkelas dan premium. Dalam keadaan di mana saja, saya bisa menulis cepat di laptop dengan bantuan pena stylus yang masuk dalam paket penjualan laptop ini. Pena ASUS berbentuk stylish dan elegan. Selain itu, teknologi yang tak kalah penting yakni pena ini dikalibrasi dengan sempurna agar dapat mendeteksi variasi tekanan saat kita menulis. Menarik sekali, bukan? Menulis ide dan mencatatnya dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.

  • Membuat kegiatan fasilitasi literasi

Resolusi berikutnya yang ingin saya lakukan adalah membuat kegiatan fasilitasi literasi berbasis daring (online). Pandemi membuat semua kegiatan menjadi terbatas. Kegiatan yang dapat dilakukan secara terbuka dan dihadiri orang-orang dalam satu ruangan pada akhirnya menyempit hanya dapat dilakukan melalui jumpa virtual. Kehadiran perangkat yang mumpuni adalah salah satu jalan tengah untuk membuat resolusi ini tercapai.

Laptop ASUS ZenBook Flip S (UX371) dilengkapi fitur menarik yakni rangkaian lengkap solusi konektivitas nirkabel. Wifi 6 yang ada di laptop ini memungkinkan dapat menikmati streaming video sangat lancar ataupun mentransfer fail besar dalam sekejap. Pertemuan melalui ruang-ruang virtual pun rasa-rasanya tak akan menjumpai masalah berarti.

(https://www.asus.com/id/Laptops/For-Home/ZenBook/ZenBook-Flip-S-UX371-11th-Gen-Intel/)

Selain itu, fitur peredam gangguan suara juga menarik bagi saya. Di laptop ini, kita akan menemukan fitur ClearVoice Mic yang dapat menyaring kebisingan di lingkungan sekitar dan menormalkan semua suara individu dalam mode multipresenter untuk kualitas panggilan konferensi grup yang optimal.

Fitur menarik lainnya dari laptop ini adalah kualitas layar yang sudah mengantongi sertifikasi dari TÜV Rheinland yang memastikan layar laptop ini tidak mengganggu kesehatan mata dari radiasi gelombang biru. Berkat penggunaan panel OLED, laptop ASUS ZenBook Flip S (UX371) tetap mampu menghasilkan warna yang ciamik dan akurat meski berada pada tingkat kecerahan yang rendah (low brightness). Tanpa mengorbankan kualitas visual layar, pengguna laptop ini tidak perlu khawatir dengan efek gangguan kesehatan yang berpotensi terjadi pada saat menggunakan piranti elektronik ini.

Spesifikasi lebih lengkap mengenai laptop ini ditampilkan dalam tabel berikut.

Main Spec.ASUS ZenBook Flip S (UX371)
CPUIntel® Core™ i7-1165G7 Processor 2.8 GHz (12M Cache, up to 4.7 GHz)
Operating SystemWindows 10 Home with Office Home & Student 2019 pre-installed
Memory16GB LPDDR4X
Storage1TB M.2 NVMe™ PCIe® 3.0 SSD
Display13.3″ (16:9) OLED 4K UHD (3840 x 2160), 400 nits, 100% DCI-P3, 133% sRGB, NanoEdge Display, Touchscreen, PANTONE® Validated display, TÜV Rheinland eye-care certified display
GraphicsIntel® Iris® X Graphics
Input/Output1x HDMI 1.4, 1x USB 3.2 Gen 1 Type-A, 2x Thunderbolt™ 4 USB Type-C supports display and power delivery
CameraHD camera with IR function to support Windows Hello
ConnectivityIntel Wi-Fi 6(Gig+)(802.11ax)+Bluetooth 5.0 (Dual band) 2*2
AudioSonicMaster, Smart Amp Technology, Built-in array microphone, harman/kardon certified
Battery67WHrs, 4S1P, 4-cell Li-ion
Dimension30.50 x 21.10 x 1.19 ~ 1.39 cm
Weight1.20 kg
ColorsJade Black
PriceRp24.999.000
Warranty2 tahun garansi global
(http://bit.ly/asset-ux371)

Begitu banyak yang fitur terbaik ditawarkan oleh laptop ASUS ZenBook Flip S (UX371). Di masa-masa seperti sekarang, kehadiran laptop dengan performa mumpuni menjadi salah satu kebutuhan penting. Asus Zenbook Flip S (UX371) menawarkan banyak fitur yang cocok untuk para pengguna yang bergelut di dunia kreatif. Jadi, apakah kamu tertarik memiliki laptop ini?



Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS ZenBook Flip S (UX371) Blog Writing Competition bersama deddyhuang.com.