Catatan Perjalanan, Qurantine Day 20

membaca kasih

suara-suara yang awalnya terdengar asing
kian lekat
seperti engkau mendengar suara dari masa lampau
sementara orang-orang tua membaca dari matamu
menggenggam tanganmu
dan mendoakan hidupmu
lebih panjang, lebih bersinar daripada sebelumnya

engkau bertanya, engkau menemukan jawaban dari mereka
tapi ternyata dalam hatimu, engkau adalah jendela
masih menerima suara-suara riuh
suara bocah memanggil nama ibunya
bergema di hatimu

kasih sayang, serupa matahari
ia memberi hangat
sampai hatimu tumpah ruah dengan rasa gembira
engkau memberi ruang makin besar
untuk menerima kasih
dan berjanji akan melipatgandakannya

Catatan Perjalanan, Cerita sehari-hari

Membicarakan Kematian

Hari ini, saya menempuh perjalanan 2 x 58,1 kilometer jauhnya dari rumah menuju rumah adik saya yang berbeda kabupaten. Dalam perjalanan, beberapa kali hujan turun. Hujan datang dan pergi. Di saat saya pikir hujan berhenti, beberapa saat kemudian ia kemudian datang lagi. Barangkali kami memang harus dihajar hujan bertubi-tubi.

Dalam perjalanan, pikiran saya mengawang. Dengan kelajuan motor di atas rata-rata, saya perlu mencubit Bapak saya. Saya katakan, tak perlu mengejar waktu. Tak ada yang diburu waktu.

Saya tidak tahu pastinya sejak kapan. Tetapi, saat berkendara, saya selalu memikirkan bagaimana jika ini adalah saat terakhir saya. Bagaimana jika saya mendapati diri saya tergelincir di jalanan aspal berpasir, dengan mulut berlumuran darah dan gigi depan yang patah? Bagaimana jika saya sudah tertib berkendara, sementara dari arah berlawanan ada pengendara yang semena-mena? Bagaimana jika setang saya ditabrak dari arah kanan sehingga saya terbang dan terpental?

Sebelum naik pesawat pun, saya makin diliputi ketakutan. Bagaimana jika ini adalah saat terakhir saya? Sejak laporan air crash investigation JT610 keluar, saya makin berpikir keras. Mungkin saja saya akan mati di udara, bahkan sebelum puing-puing pesawat menubruk tanah atau samudra.

Pertanyaan yang sering mampir di kepala saya. Bagaimana jika saya menghilang? Mati? Di jalan? Di tempat tidur? Di mana saja?

How much do we fear death?

Pertanyaannya mungkin juga akan seperti ini. Mengapa kita begitu takut dengan kematian?

Saya jadi ingat kata-kata Gong Yoo kepada Park Bo Gum dalam film terbaru mereka, Seobok.

“I’m not sure whether I really want to live or am I just afraid to die,”

Bo Gum adalah seorang manusia kloningan pertama di Korea (tentu saja) yang berhasil diciptakan setelah riset panjang sepuluh tahun ke belakang menggunakan manipulasi genetik dan kloning stem cell. Sel yang dimiliki Bo Gum dipercaya bisa menyelamatkan manusia yang sedang sekarat sehingga bisa sembuh seperti sedia kala. Sebagai manusia kloningan, dia berumur panjang, alias akan abadi. Tetapi, justru itu masalahnya. Bo Gum malah ingin mati layaknya manusia yang lain.

Dalam film Seo Bok, Bo Gum bertanya pada Gong Yoo, “Bagaimana rasanya sekarat?”

It sucks. The feeling is sucks,” begitu jawaban  Gong Yo.  

“’Jadi, apakah hidup itu terasa menyenangkan?” tanya Bo Gum kembali.

(((hening)))

Saya rasa, saya juga akan kesulitan menjawab pertanyaan Bo Gum.

Apakah hidup itu menyenangkan? Apakah kita bahagia dengan hidup kita? Apakah hidup kita cukup?

Kathryn James dalam Death, gender, and sexuality in contemporary adolescent literature terbitan Routledge membahas juga perkara kematian. Bagaimana kita “membaca” kematian? Tentu saja kematian sejauh ini hanya bisa direpresentasikan. Dalam pandangan Bronfen, representasi kematian secara naratif dan visual dapat dibaca sebagai suatu simptom budaya atau common cultural image repertoire. Sementara bagi Kearl, kematian dapat didefinisikan sebagai sebuah ide yang terkonstruksi secara sosial, “the fears, hopes, and orientation people have regarding it are not instictive, but rather are learned from such public symbols as the language, arts, and religious and funerary rituals of their culture.”

There can be no discussion of death without a references to live, vice versa~~

Barangkali yang ingin disasar dalam dialog antara Gong Yoo dan Bo Gum dalam film Seobok bukanlah kematian dalam arti harfiah suatu organisme. Tidak hanya fungsi vital suatu organisme yang mati, kematian juga dapat kita lihat dari meredupnya suatu kekuatan (power), atau hilangnya suatu nilai atau prinsip (lack of value), dan juga yang tak kalah penting yakni matinya sebuah harapan (hopes).

Hidup dan mati adalah dualitas. Tak bisa kita pisahkan. Sejak manusia lahir pun, kematian adalah bayang-bayangnya. Tentu saja hal ini sangat menarik. Barangkali saya harus lebih banyak mengkaji perkara hidup dan kematian ini.

Cerita sehari-hari, Qurantine Day 20

Akhirnya Jadi Penyintas Covid-19

Tanggal 22 selesai isolasi mandirii! Yeayy!!!

Ngerasain juga jadi penyintas Covid-19 di tahun 2021 ini.

Kalau ditanya gejalanya apa, mon maap, saya masuk kategori asimptomatik alias orang-orang ga jelas yang tanpa gejala alias OTG. Tapi apakah benar-benar tidak merasakan gejalanya? Atau gejala yang ada cenderung diabaikan?

Hmm, baiklah. Mari kita mulai dengan kronologinya.  

Lanjutkan membaca “Akhirnya Jadi Penyintas Covid-19”
review

Laptop Ciamik dan Riset Budaya 2021~

Sudah tiga bulan berselang sejak awal tahun 2021. Pandemi masih berlangsung dan kata-kata New Normal sepertinya masih akan terus terngiang di telinga kita setiap harinya. Banyak hal yang ternyata harus diubah sejak pandemi Covid-19 datang menghantam, utamanya kebiasaan yang sering dilakukan. Bagi staf peneliti di salah satu kementerian seperti saya, istilah WFH (work from home) pun tidak akan terasa jauh. Sebagai salah satu upaya menurunkan tingkat penyebaran Covid-19, pertemuan-pertemuan yang melibatkan orang banyak tentunya sudah setahun ini dikurangi. Pertemuan lebih banyak diadakan secara daring (dalam jaringan/online). Hal ini pun membuka kesempatan bagi orang-orang dari seluruh penjuru Indonesia untuk ikut bertemu secara virtual.

Sejak beberapa tahun belakangan, saya rutin menulis resolusi. Saya ingin mencatat pengalaman-pengalaman, harapan, dan juga doa. Akan tetapi pandemi memutarbalikkan semua tatanan kehidupan manusia dengan sangat cepat. Resolusi-resolusi yang menjadi harapan setiap tahun tiba-tiba saja menguap begitu saja. Tetap saja, tahun ini saya masih menulis resolusi saya. Untuk alasan apa? Tentu saja demi menyalakan semangat agar tetap pada tempatnya.

Apa saja yang mau saya lakukan di tahun ini?  Hmm, mungkin jawabannya seperti ini.

  • Melakukan riset budaya sastra lisan

Sebagai seorang peneliti budaya, hal yang paling membahagiakan adalah turun lapangan, bertemu para pelaku budaya dan praktisi, menggali informasi, dan mengeksplorasi tempat-tempat baru yang bahkan belum pernah didatangi sebelumnya. Untuk mendukung hal tersebut, saya membutuhkan sebuah perangkat yang multifungsi dan menawarkan performa ciamik. Itu alasan mengapa saya membutuhkan ASUS ZenBook Flip S (UX371).

Ketika berada di lapangan, saya harus berhadapan dengan kondisi-kondisi yang tak terprediksi. Bisa saja saya harus berada di perjalanan dalam rentang waktu yang panjang sehingga tidak dapat menemukan listrik sebagai sumber daya. Laptop ini digadang-gadang dapat bertahan 15 jam pemakaian normal. Bagi saya, ini cukup membantu kondisi darurat di lapangan. Tentu saja waktu pemakaian laptop selama itu tidak dapat begitu saja diremehkan. Selain itu, jika kehabisan daya, laptop ini bisa diisi ulang dengan menggunakan bank daya portabel (power bank) berkat fitur USB-C Easy Charge yang dimilikinya. Alangkah mudahnya!

(https://www.asus.com/id/Laptops/For-Home/ZenBook/ZenBook-Flip-S-UX371-11th-Gen-Intel/)

ASUS ZenBook Flip S (UX371) juga memiliki beberapa keunggulan yang saya rasa sangat tepat menemani mobilitas saya dalam beraktivitas. Dengan kode S yang melekat pada namanya, menunjukkan bahwa laptop ini slim and sophisticated yang artinya ramping dan canggih. Selain itu, ketebalan laptop ini hanya 13,9 mm dan bobotnya pun seberat 1,2 kg. Tak akan sulit bagi saya menenteng tas ransel berisi laptop ini di dalamnya.

Komputer masa kini memiliki tampilan berbeda karena mereka memang berbeda. Dengan solid-state drive (SSD) dan teknologi terkini, Anda mendapatkan kecepatan, keamanan, ketahanan, dan desain yang cantik. Kami telah melakukan jajak pendapat, dan hasilnya, orang-orang lebih senang saat bepergian dengan PC modern.

(https://www.asus.com/id/Laptops/For-Home/ZenBook/ZenBook-Flip-S-UX371-11th-Gen-Intel/)

Saya membutuhkan sebuah perangkat yang ringan, ringkas, dan punya kemampuan penyimpanan yang lega. Bagi saya, ukuran layar ASUS ZenBook Flip S (UX371) sebesar 13,3 inch adalah ukuran yang pas dengan resolusi 4K/UHD (3840 X 2160 pixel). Laptop ini juga dikemas dengan komponen berperforma tinggi, termasuk kehadiran prosesor Intel Core i7 Generasi ke-11 terbaru (2.80GHz quadcore dengan Turbo Boost hingga 4.70 GHz), grafis Intel Iris Xe, dan RAM berkecepatan tinggi hingga 16 GB. Sementara itu, hal penting lainnya bagi seorang peneliti adalah kehadiran laptop dengan kapasitas penyimpanan yang bisa memuat banyak data-data riset. Laptop ini hadir dengan media penyimpanan hingga 1 TB SSD M.2 Pcle NVMe. Apa lagi yang saya harapkan?

  • Menulis cerita anak

Resolusi kedua saya tahun ini adalah membuat buku cerita anak berdasarkan riset yang telah dilakukan. Saya membayangkan akan menjangkau lebih banyak orang dengan menulis. Karena kecintaan saya terhadap budaya, sastra lisan, dan folklor, membuat saya tertarik menuliskan cerita untuk anak-anak. Untuk mendukung hal ini, saya membutuhkan perangkat yang ringkas dan dapat membantu saya mencatat ide-ide kreatif di mana pun saya berada.

PC modern juga dilengkapi dengan pena digital yang memiliki banyak manfaat. Sentuhan khas tercipta saat Anda membuat sketsa atau coretan pada dokumen dengan pena digital. Penelitian juga menemukan adanya peningkatan kinerja hingga 38% pada pelajar ketika mereka menggunakan pena digital untuk mengerjakan soal-soal sains. Tidak semua ide berupa kalimat, kini saatnya untuk tuangkan inspirasi segera dalam sketsa atau coretan pena digital di PC modern.

Laptop ASUS ZenBook Flip S (UX371) terlihat makin menarik bagi saya karena dapat diputar 360º dan digunakan layaknya sebuah tablet. Layar sentuh (touchscreen) makin membuat laptop ini tampak berkelas dan premium. Dalam keadaan di mana saja, saya bisa menulis cepat di laptop dengan bantuan pena stylus yang masuk dalam paket penjualan laptop ini. Pena ASUS berbentuk stylish dan elegan. Selain itu, teknologi yang tak kalah penting yakni pena ini dikalibrasi dengan sempurna agar dapat mendeteksi variasi tekanan saat kita menulis. Menarik sekali, bukan? Menulis ide dan mencatatnya dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.

  • Membuat kegiatan fasilitasi literasi

Resolusi berikutnya yang ingin saya lakukan adalah membuat kegiatan fasilitasi literasi berbasis daring (online). Pandemi membuat semua kegiatan menjadi terbatas. Kegiatan yang dapat dilakukan secara terbuka dan dihadiri orang-orang dalam satu ruangan pada akhirnya menyempit hanya dapat dilakukan melalui jumpa virtual. Kehadiran perangkat yang mumpuni adalah salah satu jalan tengah untuk membuat resolusi ini tercapai.

Laptop ASUS ZenBook Flip S (UX371) dilengkapi fitur menarik yakni rangkaian lengkap solusi konektivitas nirkabel. Wifi 6 yang ada di laptop ini memungkinkan dapat menikmati streaming video sangat lancar ataupun mentransfer fail besar dalam sekejap. Pertemuan melalui ruang-ruang virtual pun rasa-rasanya tak akan menjumpai masalah berarti.

(https://www.asus.com/id/Laptops/For-Home/ZenBook/ZenBook-Flip-S-UX371-11th-Gen-Intel/)

Selain itu, fitur peredam gangguan suara juga menarik bagi saya. Di laptop ini, kita akan menemukan fitur ClearVoice Mic yang dapat menyaring kebisingan di lingkungan sekitar dan menormalkan semua suara individu dalam mode multipresenter untuk kualitas panggilan konferensi grup yang optimal.

Fitur menarik lainnya dari laptop ini adalah kualitas layar yang sudah mengantongi sertifikasi dari TÜV Rheinland yang memastikan layar laptop ini tidak mengganggu kesehatan mata dari radiasi gelombang biru. Berkat penggunaan panel OLED, laptop ASUS ZenBook Flip S (UX371) tetap mampu menghasilkan warna yang ciamik dan akurat meski berada pada tingkat kecerahan yang rendah (low brightness). Tanpa mengorbankan kualitas visual layar, pengguna laptop ini tidak perlu khawatir dengan efek gangguan kesehatan yang berpotensi terjadi pada saat menggunakan piranti elektronik ini.

Spesifikasi lebih lengkap mengenai laptop ini ditampilkan dalam tabel berikut.

Main Spec.ASUS ZenBook Flip S (UX371)
CPUIntel® Core™ i7-1165G7 Processor 2.8 GHz (12M Cache, up to 4.7 GHz)
Operating SystemWindows 10 Home with Office Home & Student 2019 pre-installed
Memory16GB LPDDR4X
Storage1TB M.2 NVMe™ PCIe® 3.0 SSD
Display13.3″ (16:9) OLED 4K UHD (3840 x 2160), 400 nits, 100% DCI-P3, 133% sRGB, NanoEdge Display, Touchscreen, PANTONE® Validated display, TÜV Rheinland eye-care certified display
GraphicsIntel® Iris® X Graphics
Input/Output1x HDMI 1.4, 1x USB 3.2 Gen 1 Type-A, 2x Thunderbolt™ 4 USB Type-C supports display and power delivery
CameraHD camera with IR function to support Windows Hello
ConnectivityIntel Wi-Fi 6(Gig+)(802.11ax)+Bluetooth 5.0 (Dual band) 2*2
AudioSonicMaster, Smart Amp Technology, Built-in array microphone, harman/kardon certified
Battery67WHrs, 4S1P, 4-cell Li-ion
Dimension30.50 x 21.10 x 1.19 ~ 1.39 cm
Weight1.20 kg
ColorsJade Black
PriceRp24.999.000
Warranty2 tahun garansi global
(http://bit.ly/asset-ux371)

Begitu banyak yang fitur terbaik ditawarkan oleh laptop ASUS ZenBook Flip S (UX371). Di masa-masa seperti sekarang, kehadiran laptop dengan performa mumpuni menjadi salah satu kebutuhan penting. Asus Zenbook Flip S (UX371) menawarkan banyak fitur yang cocok untuk para pengguna yang bergelut di dunia kreatif. Jadi, apakah kamu tertarik memiliki laptop ini?



Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS ZenBook Flip S (UX371) Blog Writing Competition bersama deddyhuang.com.

Cerita sehari-hari

Hello Februari

Banyak hal terjadi. Banyak masalah tiba-tiba datang. Banyak pula kemungkinan yang harus dicoba. Banyak perpisahan. Banyak pula pertemuan. Makin banyak pula yang terpikir di kepala.

Saya sedang menikmati semilir angin yang menerobos jendela sore ini. Matahari belum turun terlalu jauh. Mengamati pucuk dedaunan yang melambai di halaman rumah tetangga. Saya berpikir. Alangkah nikmatnya menikmati hidup hingga tua bersama orang yang dicintai. Sebanyak-banyaknya waktu yang dipunya, hanya dihabiskan bersama pasangan.

Saya mungkin sedang gila. Saya sudah melihat banyak kekosongan yang terjadi ketika pasangan meninggalkan kita. Kondisi yang limbung. Bahkan tak ada daya dan upaya melanjutkan hidup. Ada yang kosong. Hampa.

Banyak teori mengatakan, sebelum memutuskan untuk bersama seseorang, kamu harus menjadi utuh terlebih dulu. Full. Penuh. Jadi tidak ada kekosongan yang kamu harap dapat terisi dengan kehadiran pasangan. Pasangan bukanlah sesuatu yang bisa digunakan untuk mengisi hari-hari yang kosong. Yang hampa. Yang sedih karena kita merasa kesepian.

Ah, kakehan teori.

Intinya saya sedang kangen. Plus hormonal feeling’s really hit me hard.

Bleh.

vers libre

semangkuk kesedihan

Semangkuk kesedihan tersaji setelah sebelumnya
pisau menghunus dirinya sendiri di dapur
sementara kata-kata kembali pada mulut yang bicara
katanya bisa ina ini ita itu
sayangnya, kata-kata itu terperangkap pada masa lalu

Masa lalu terbuat dari tangis mata ibu
dan kopi pahit yang tersiram ke dinding
membentuk gambar dan gelombang
seperti kapal perompak-perompak yang berlayar di lautan

Kapal-kapal itu melawan badai dan cuaca seperti kesedihan
datang tiba-tiba menenggelamkan

Cuaca seperti kesedihan yang mengambang di pelupuk mata
mendengarkan cerita-cerita lalu menertawakan
kebodohan yang tercipta perompak kembali tiba setelah berlayar di lautan
terapung-apung dalam semangkuk kesedihan
badai lamat-lamat menenggelamkan
semua perasaan

Cerita sehari-hari

di pekuburan

Saya menghabiskan hari yang masih akan panjang ini dengan cukup banyak menangis. Saya sudah menangis pukul tiga pagi di atas ranjang, lalu pukul tujuh di pekuburan, dan pukul tiga belas setelah menamatkan buku yang visualnya membuat saya ingin mual dan mengurung diri saja di kamar untuk seterusnya.

Di pekuburan pagi hari, tidak terlalu ramai orang. Justru itu yang saya sukai. Saya tak pernah suka saat-saat di mana kuburan penuh sesak dengan orang-orang, sebut saja ketika ruwahan, atau lebaran. Pekuburan harusnya sunyi. Ia menangkap gelombang doa, gelombang cinta. Di sana saya menangis entah karena apa. Barangkali penyesalan yang membuat air mata saya jatuh. Sama halnya jika ditanya, kenapa kamu menangis di pukul tiga dini hari buta? Bagi sebagian orang, saat-saat paling kritis itu adalah saat kamu ingin didengarkan, tetapi kamu tidak bisa meraih apa atau siapa. Saat ketika kamu ingin menangis banyak, tapi kamu malu. Merasa tidak cukup lebih menderita ketimbang yang lain. Padahal namanya hidup, siapa saja menanggung deritanya sendiri-sendiri.

Ketika bergumam, berbicara pada ibu saya, saya katakan saya minta maaf. Saya minta maaf tidak terlalu banyak meluangkan waktu bahkan untuk menanyakan kabar atau sudah makan atau belum. Saya juga meminta maaf karena saya menolak menginap saat ia berkunjung dulu. Saya berkata dengan penuh kesadaran, maafkan saya. Sampai ada yang berderai hingga jauh. Hingga tak sadar ada seorang nenek yang lewat, disusul oleh dua anak kecil. Saya tidak tahu dua anak kecil yang saya temui tadi pagi di pekuburan adalah benar anak kecil atau malaikat yang menyaru. Mereka berdua masih menggunakan piyama, menenteng seplastik kembang kamboja yang harumnya jauh tercium meruap ke udara. Tanpa bulir air mata, mereka berdua tertawa-tawa. Si kakak laki-laki menuntun tangan mungil adiknya dan mengajak berkeliling untuk meletakkan dua tiga kuntum kamboja di makam entah siapa-siapa. Mungkin ayah mereka, atau ibu, atau kakek-nenek. Saya tak menemukan mereka bersama anggota keluarga lainnya. Hanya mereka berdua berjalan dari ujung hingga ke ujung, melewati jalan sempit, berpegangan tangan.

Mereka seperti datang, mengingatkan. Masih ada orang-orang yang bisa menggenggam tangan kita dan berjalan bersama-sama.

soundtrack of my life

Life goes on~

Banyak hal terjadi di 2020 bukan?

Boom! Tiba-tiba saja kita sudah tiba di Desember. Tahun yang mengajarkan banyak-banyak bersabar. Tahun yang mengajak tersenyum meski sedikit getir. Tahun yang mengajarkan syukur, ternyata kita masih menghirup udara segar di tengah kesakitan-kesakitan yang kita alami, baik fisik maupun mental.

Tahun 2020 adalah tahun yang dekat sekaligus jauh. Jarak memisahkan. Pelukan mendekatkan. Tahun 2020 membuat kita sadar, siapa yang worth it untuk tetap dipertahankan di lingkar terdekat.

Playlist saya Desember ini muter ini doang bolak-balik sama sealbum Christmas Blue-nya Sabrina Claudio. Dah. Life must go on :’))

Like an echo in the forest
The day will come back around
As if nothing happened
Yeah life goes on

Like an arrow in the blue sky
Another day flying by
On my pillow, on my table
Yeah life goes on
Like this again

Let me tell you with this song
People say the world has changed
But thankfully between you and me
Nothing’s changed

Buku-buku dan Hal Menarik lainnya

Mari Mengaum Bersama Serigala Betina dalam Diri Kita

Apa yang membuat kamu tertarik membaca sebuah buku? Kalau saya sih, bisa jadi dimulai dari siapa penulisnya lalu apa yang ia bahas dalam buku tersebut.

Apalagi yang bisa saya lakukan kecuali menekan tombol preorder saat pertama mendengar kabar bahwa buku karya mbakku yang cantik dan imut akan segera terbit, Mbak Ester Lianawati.

Sudah lama sejak buku ini mendarat di tangan saya sebenarnya, tapi butuh waktu lebih lama bagi saya untuk menuliskan mengenai pandangan-pandangan (cailah) saya atas buku ini.

Saya tidak pernah mendapat kuliah psikologi saat kuliah. Di jurusan saya pun, ada kelas teori psikologi sastra yang waktu itu tidak saya ambil memang. Entahlah, mungkin karena saya pikir, psikologi adalah sesuatu yang harus saya hindari karena dendam di masa lalu (pilihan pertama SNMPTN saya dulu adalah psikologi, tapi yang tembus malah pilihan kedua wkakakaka). Justru kemudian saya berkenalan lagi dengan dunia psikologi melalui si Mas. Bacaan-bacaan seperti Jung atau Freud saya dapat dari beliau. Huehehe.

Berbicara mengenai cover buku ini, jelas ini adalah cover pilihan saya (saat itu tim penerbit memvoting, cover mana yang terbaik di antara 3 pilihan cover yang ditawarkan). Cobalah tengok. Seorang perempuan bisa saja mengenakan kostum bermacam-macam, seperti yang ditampilkan di cover, tapi masing-masing perempuan punya kesamaan yakni memiliki bayangan seekor serigala dalam dirinya. Hal ini ternyata menjadi poin penting bahwa ada serigala betina dalam diri setiap perempuan, seperti judulnya. Tepat sekali!

Dalam diskusi buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan yang diselenggarakan oleh Kebab Reading pada 28  November kemarin, saya menangkap banyak sekali pesan dari para peserta diskusi yang menyatakan dirinya didukung penuh oleh buku ini. Kegamangan-kegamangan yang dihadapi ternyata bersumber dari konstruksi sosial dan didukung penuh oleh masyarakat. Kenyataannya, di sekitar kita justru banyak perempuan yang tidak sadar mendiskreditkan perempuan lainnya. Mulai dari standar kecantikan, standar akademis, standar menjadi istri yang baik, atau juga standar menjadi ibu yang sempurna.

Buku ini dimulai dengan sejarah panjang teori-teori yang berkaitan dengan psikologi feminis lewat bagian Psikologi Feminis: Apa dan Bagaimana.  Bagi saya tak masalah. Tentu kita harus memulai dengan sebuah pijakan sebelum melangkah lebih jauh untuk mengenal diri sendiri. Ada pengetahuan mengenai penis envy, kompleks Oedipus hingga kompleks Elektra. Dibahas pula mengenai teori-teori Erikson, Jung, Freud, hingga Sabina Spielrein.

Yang paling menarik bagi saya tentu saja bagian kedua yang membahas Psike Perempuan: Semesta yang Tak Terlihat. Pada bagian ini, Mbak Ester tampak menguliti lapis demi lapis keperempuanan seseorang (hasyah, bahasanya ribet banget).

Ada serigala betina dalam diri setiap perempuan. Ini pesan yang saya tangkap dari karya Estes. Jika banyak perempuan tidak menyadarinya, itu karena keliaran perempuan sejak lama ditekan oleh masyarakat. Liar bukan dalam makna negatif yang merendahkan, seperti tak terkendali. Liar mengandung arti kebersatuan dengan alam: menjalani kehidupan secara alami, mengikuti irama kehidupan dan aspirasi yang terdalam.

Jangan bayangkan perempuan liar sebagai sosok yang mengerikan. Ia adalah pribadi yang hangat dan otentik. Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Tidak berpura-pura menikmati persahabatan hanya karena khawatir tidak punya teman. Ia pun tidak takut dengan penolakan sosial.

Wkwkwk.

Saya merasa sedikit tertohok ketika membaca ini. Dalam kurun waktu lima bahkan sepuluh tahun ke belakang, saya masih berada dalam kondisi kompleks-kompleks seperti ini. Takut ditolak. Takut tidak dianggap cantik. Takut tidak dianggap pintar. Takut berbicara dan mengutarakan pendapat di depan orang. Takut dibenci. Takut ditinggalkan. Masih banyak takut-takut lain yang saya hadapi untuk bisa sampai di titik ini.

*menghela napas*

Buku Mbak Ester bener-bener deh!

Satu bab lagi yang membuat saya terperangah adalah bahasan mengenai perempuan penyihir. Selamat bagi saya. Ternyata saya adalah perempuan penyihir di abad ini dan saya menerima pembantaian-pembantaian tersebut bahkan dari lingkup keluarga yang paling dekat. Hohoho. Setelah membaca bab ini, saya membayangkan bahwa dulunya, mungkin saja saya benar-benar penyihir yang hidup di abad pertengahan. Yang membawa sapu terbang, melatih perempuan lain mengenali dan peka terhadap tubuhnya sendiri, juga mengobati orang-orang dengan ramuan ajaib yang saya temukan bahan bakunya di hutan-hutan terlarang. Bisa jadi bukan? Hal ini yang membuat saya sangat jatuh cinta dengan dunia folktale dari seluruh dunia.

 Akan tetapi, berapa pun usia perempuan lajang, kita tidak akan pernah menerima ide bahwa perempuan-perempuan ini bisa bahagia, apalagi lebih bahagia dibandingkan mereka yang menikah dan punya anak. Kita menganggap hidup mereka kering, depresif, dan pasti ada yang “salah” dalam perjalanan hidupnya sampai kok bisa tidak menikah.

Perempuan sendiri masih hidup dalam angan-angan bahwa pria impiannya akan datang, si pangeran tampan berkuda putih. Harapan itu bisa membuat perempuan putus asa ketika waktu berlalu, tetapi ia belum menemukan pasangan.

Perempuan dibebani dengan kewajiban menikah untuk membahagiakan orang tua. Dalam masyarakat yang menuntut balas budi anak sebagai bentuk bakti kepada orang tua karena sudah dilahirkan dan dibesarkan, perempuan diliputi rasa bersalah jika belum atau tidak bisa menyenangkan orang tua dengan melakukan pernikahan.

Seringkali desakan ini tidak dinyatakan secara langsung, tetapi dalam bentuk yang menurut saya bisa kita lihat (lagi-lagi) sebagai kekerasan psikologis. Misalnya orang tua yang tidak mau makan karena memikirkan nasib anaknya yang tidak kunjung menikah. Atau orang tua yang bercerita kepada paman dan bibi sampai menangis memikirkan anaknya yang belum menikah. Hal-hal semacam ini yang membuat perempuan tertekan. Perempuan tidak tertekan oleh kelajangannya, ia tertekan oleh pandangan dan perilaku orang-orang di sekitarnya terkait dengan kelajangannya.

Buku Mbak Ester memang bener-bener deh!

Dah ah. Kalau kalian tertarik, harus belii dan buktikan kalau kalian juga bisa mengumpat-umpat kayak saya setelah membaca buku ini.

I love you, Mbak Ester. Thank you for writing this book!