Buku-buku dan Hal Menarik lainnya, Catatan Perjalanan

Murti Bunanta dan Kisar Cinta Literasi Anak Indonesia

Waktu menunjukkan pukul 09.00 pagi. Galeri Annex yang terletak di bagian dalam Taman Ismail Marzuki masih cukup sepi. Dari dalam ruangan, saya melihat sosok perempuan paruh baya dengan pakaian kasual melangkah menuju luar gedung. Beliau tampak berdiskusi dengan beberapa anak muda yang menggunakan kartu tanda panitia gelaran Jakarta International Literary Festival tahun 2022. Tampilannya sangat energik. Ah, ya! Beliau adalah Murti Bunanta, seorang pakar sastra anak sekaligus pendiri Komunitas Pecinta Bacaan Anak atau yang lebih sering dikenal sebagai KPBA-Murti Bunanta.

Pagi hari itu, KPBA menjadi bagian dari acara besar Jakarta International Literary Festival 2022 yang mengangkat tema Our City in Their World: Citizenship, Urbanism, and Globalism. Selama empat hari berturut-turut mulai dari 22—25 Oktober 2022, KPBA mengadakan kegiatan bertajuk Mengenal Dongeng Nusantara, Ilustrasikan Kota Idamanmu, Diorama Kotaku, serta gelar wicara Milenial Tanpa Buku, Mungkinkah? Sebagai sukarelawan, saya ikut terlibat dalam dua kegiatan, yakni Mengenal Dongeng Nusantara dan Ilustrasikan Kota Idamanmu. Sebelumnya, saya tidak pernah bertemu secara langsung dengan Bu Murti, begitu beliau kerap disapa. Di usia yang sudah tidak lagi muda, langkahnya masih lincah. Beliau berjalan ke sana ke mari memastikan semua perlengkapan acara sudah siap. Bu Murti juga menggenggam secarik kertas, mungkin berisi petunjuk rundown acara yang akan dilaksanakan tepat pukul 10.00 pagi.

dokumentasi KPBA-Murti Bunanta

Sebelum peserta kegiatan berdatangan, para sukarelawan diminta berkumpul membentuk lingkaran kecil. Bu Murti memberikan pengantar perihal apa yang harus dilakukan. Tugas disiapkan: para sukarelawan harus ikut mendongeng wayang beber pada hari itu. Aduhai! Melihat wayang beber pun belum pernah, bagaimana saya harus mendongeng untuk anak-anak? Saya merasa panik dalam hati. Bu Murti dengan sabar menjelaskan bahwa wayang beber tidaklah serumit yang dibayangkan. Dalam hal ini, KPBA membuat wayang beber sebagai medium dua dimensi untuk menyampaikan cerita rakyat Si Kecil (Tiny Boy) asal Sulawesi Selatan. Bentangan kain sepanjang kira-kira empat meter menampilkan fragmen-fragmen dalam cerita rakyat tersebut. Bu Murti berkata, “Ceritakan saja, sesuai dengan bagian masing-masing. Jangan ada beban, berceritalah dengan gembira pada anak-anak.”

dokumentasi instagram @jilf.indo saat mendongeng wayang beber

Saya yang merasa takjub dengan kata-kata Bu Murti akhirnya berhasil mendongeng sedikit fragmen cerita rakyat Si Kecil. Padahal itu adalah kali pertama saya mendongeng di depan anak-anak dan di dalam satu event yang sangat besar menurut saya. Rasa takjub saya tidak berhenti di situ. Saya merasa bahagia bisa belajar banyak dengan Bu Murti terkait bidang literasi dan dunia kesusastraan anak. Dengan bangga pula, saya bisa menyebut bahwa Bu Murti adalah role model bagi saya dalam mencintai dan mengembangkan dunia literasi anak.

Mengenal Kiprah Murti Bunanta

Sebelum bertemu langsung dengan Bu Murti, saya sudah pernah bekerja sama dengan beliau yang ditunjuk sebagai salah satu juri dalam lomba penulisan cerita anak yang diadakan oleh instansi tempat saya bertugas. Kami berkontak melalui pesan singkat, telepon, bahkan dalam beberapa kali pertemuan virtual. Sejak awal, bayangan sosok yang tegas, keibuan, tetapi tetap mengayomi sudah saya rasakan. Impresi itu tidak berubah saat saya bertemu secara langsung dengan Bu Murti di acara Jakarta International Literary Festival 2022. Kami berbincang banyak hal dan membuat saya makin mengagumi apa yang beliau sudah lakukan bagi perkembangan dunia literasi dan sastra anak di Indonesia.

Ibu Murti tidak hanya berkiprah di level nasional tetapi juga di level internasional. Perempuan kelahiran Semarang pada tahun 1946 ini memiliki rekam jejak yang tidak cukup dideskripskan dalam berlembar-lembar halaman. Bu Murti adalah sosok doktor pertama dari Universitas Indonesia yang meneliti sastra anak sebagai topik disertasi. Penghargaan yang telah diraih pun sudah sangat banyak. Di antaranya adalah hadiah internasional The Janus Korzcak International Literary Prize dari Polandia untuk buku Si Bungsu (1998), Octogenes untuk buku Legenda Pohon Beringin (2002), penghargaan BIB Honorary Award dari Slovakia (2002), Honorable Mention BIB (2005), IBBY Honor List (2008), Outstanding Book for Young People with Dissabilities untuk buku My First Dictionay-Insect (2009), dan USBBY Outstanding International Books List untuk buku The Tiny Boy and the Other Tales from Indonesia (2014). Selain penghargaan, Bu Murti juga aktif menjadi panelis dalam seminar dan lokakarya di dalam dan luar negeri selama bertahun-tahun dan menelurkan banyak artikel atau jurnal ilmiah di bidang sastra anak. Bu Murti mendirikan KPBA sebagai sebuah organisasi independen yang dirintis sejak 1988 dan Indonesian Board on Books for Young People (INABBY) sejak 1990 yang berfokus mengembangkan literasi dan memajukan bacaan bagi anak.

dokumentasi pribadi penulis

Dalam satu perbincangan, Bu Murti menyebut bahwa ia tidak bekerja untuk diri sendiri tetapi untuk Indonesia. Kecintaan Bu Murti pada bacaan anak dan sastra anak tidak datang begitu saja. Beliau menyebut bahwa ibunya adalah sosok inspirasi baginya karena sang Ibu tanpa sadar menanamkan kecintaan lewat cerita-cerita, bacaan anak, atau dongeng yang menghiasi masa kecilnya. Bercerita adalah hal yang rutin dilakukan oleh sang Ibu dan hal itu selalu diulang-ulang oleh Bu Murti. Setiap orang tua harus membiasakan bercerita pada anaknya. Tidak harus memiliki buku dongeng atau cerita yang harganya mahal. Setiap orang tua dapat bercerita apa saja hal yang dilakukan dalam keseharian kepada anak-anak dan itu nantinya akan membentuk kepribadian anak-anak menjadi lebih imajinatif.  Bu Murti berharap orang-orang tidak hanya berkoar-koar bicara tentang literasi tanpa mengerti esensinya. Yang paling penting menurutnya adalah mewujudkan apa dan bagaimana literasi itu dalam kehidupan. Hal paling sederhana yang dapat mulai dilakukan di level keluarga yakni bercerita atau mendongeng. 

Ibu Murti mengajarkan banyak hal kepada saya, salah satunya adalah memantik keberanian, ekspresi diri, dan rasa ingin tahu seperti yang dirasakan saat masih berusia kanak-kanak. Jika tidak didorong Bu Murti, mungkin saya tidak akan pernah berani mendongeng di depan khalayak ramai. Apalagi mendongeng di depan anak-anak yang memang menantikan cerita rakyat dengan sangat antusias. Dengan segala perjalanan, dedikasi panjang, juga penghargaan yang telah diraih Bu Murti sejauh ini, tidak membuat dirinya merasa spotlight harus ditujukan kepadanya. Bu Murti memberi kesempatan pada kami—generasi berusia lebih muda—untuk tampil mendongeng dan berkarya dalam panggung yang besar. Tidak semua orang punya kebesaran hati seperti yang dimiliki Bu Murti. Beliau juga berulang kali menyatakan bahwa seseorang dianggap berhasil apabila kesuksesan yang diraih tidak hanya berpusat pada dirinya sendiri tetapi juga pada lingkungan dan orang-orang di sekelilingnya.

dokumentasi pribadi penulis

Bu Murti juga mengajak untuk berbagi apa saja yang dimiliki, bisa kelebihan tenaga, waktu, materi, atau pengetahuan karena hal itu akan menyebar demi kebaikan orang lain atau khalayak yang lebih luas. Hal lain yang saya catat adalah kekonsistenan dalam menjaga passion atau minat kita terhadap sesuatu agar hal itu tetap menyala dalam hati kita. Bu Murti yang dulunya bercita-cita menjadi dokter tentu tidak pernah membayangkan dirinya akan ada di pilihan hidup yang sekarang ditekuni. Bu Murti mencintai buku dan bacaan anak. Nyala itulah yang ia jaga dalam hatinya hingga saat ini. Saya sangat beruntung bisa mengenal dan menjadikan Bu Murti Bunanta sebagai pribadi panutan saya. Dedikasi Bu Murti dalam dunia kesusastraan anak begitu luar biasa dan menjadi inspirasi bagi saya.

Cerita sehari-hari

Apa Kabar Diri?

Sejak pindah ke tempat baru, rumah baru untuk sekitar dua tahun ke depan, saya menyadari banyak hal yang memang harus saya perhatikan. Saya tahu saya adalah introvert, tidak suka berada di kerumunan banyak orang, dan cenderung diam jika tidak ada yang mengajak bicara. Saya memilih tempat duduk di ujung, atau bahkan di depan–tempat yang sangat dihindari siswa ketika sekolah. Saat jeda, saya lebih memilih duduk di bangku taman, memperhatikan lalu lalang orang, atau pak kebun yang asyik mengerjakan pekerjaannya. Dengan duduk diam, saya bahkan bisa mendengar suara-suara yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Angin yang melambat, semilirnya menimpali jejak langkah kaki orang.

Saya mendapati, alur waktu berjalan sangat cepat. Bangun di pagi hari, siang datang, sore menjelang, tiba-tiba sudah harus kembali tidur. Waw. Saya kadang bertanya, apa yang saya lakukan hari ini. Apakah sudah melakukan hal yang bermanfaat? Sudah berapa halaman membaca? Sudah menulis berapa kata? Lalu mendapati bahwa saya belum melakukan apa-apa misalnya, duh sedih.

Sampai kini, setiap malam saya juga terus bermimpi. Mimpi apa saja. Paling absurd adalah menembus jalan rahasia menuju rumah artis–yang saya tidak kenal siapa. Lalu pernah juga mimpi ditraktir makan bakso, disuruh Emak jajan ke warung, dan masih banyak jurnal mimpi lainnya. Kadang saya penasaran apa isi dalam kepala saya. Bisa-bisanya setiap malam punya rangkaian mimpi untuk saya ceritakan setiap pagi.

Baik, sebelum tambah melantur, saya harus meneruskan tugas membaca cerpen saya.
Barangkali memang, dulu saya mengambil jurusan sastra karena toh saya diterima di jurusan itu saat SNMPTN. Tidak ada pilihan lain. Mau tidak mau, jalan itu harus ditempuh. Sementara sekarang, saya memang dengan sengaja mencurahkan energi dan pikiran saya agar makin khatam menganalisis *puisi, prosa, drama, status media sosial, picturebook, komik, film, kondisi sosbud di lingkungan sekitar* apapun itu. It feels different. ahahaha 😛

Ah, sudahlah. Mari benar-benar kembali ke jalinan cerita yang harus dipelototi ini.

Cerita sehari-hari

apa isi kepalamu?

Rasanya, banyak sekali yang ingin diceritakan. Seperti mimpi belakangan ini yang makin absurd. Kadang saya berpikir, apa isi kepala saya. Kadang terurai berantakan, kadang tersimpul kencang.

Semalam saya mimpi dikejar anjing berwarna hitam. Tapi kemudian anjing itu berubah menjadi sapi–apa ada sapi berwarna hitam dan bisa berenang–? Hebatnya, saya yang tidak pernah mendapat nilai cukup baik di bidang olahraga bisa berlari dengan kencang menghindari apa pun binatang yang mengejar di belakang. Sebelum meloncat ke air, atau sungai, ya, saya masih bisa mendengar dengus napas anjing yang kencang itu. Saya sukses melompat, sukses pula berenang. Tapi makbedunduk si anjing berubah jadi sapi yang juga bisa berenang.

Saya bangun dengan napas terengah, batuk-batuk, dan dada kencang. Ya jelas, wong saya sedang flu berat. Mata berair, hidung meler, batuk yang gerung di dada. Kombinasi yang rancak bana. Kerja selama delapan tahun dan baru sekali ini menghabiskan cuti 12 hari terpanjang sepanjang masa dan ternyata memang harus beneran istirahat total. Nyaw 😦

Memang benar sih, ya. Kekasih saya mengatakan bahwa dunia ini, tidak semuanya bisa dikontrol. Selalu ada hal-hal yang membuat kita menunggu. Membuat kita belajar. Belajar mengontrol diri–karena kita tidak bisa mengontrol orang lain–tentu saja. Belajar sabar. Duh, Gusti, paringi sabar sing akeeh~

When life gets too complicated
Please stand with me after dark
I’ll stay in the limelight
Like a beautiful afterthought

Beberapa dari kita, saya terutama, mungkin berpikir bahwa masalah yang saya hadapi adalah yang paling berat di dunia. Padahal kita tidak pernah tahu, masalah yang dihadapi orang lain bagaimana beratnya. Itulah pentingnya untuk tidak saling menghakimi. Kalau orang lain terlihat baik-baik saja, belum tentu hatinya baik-baik saja.

Semoga apa-apa saja yang membelit pikiran bisa segera terurai.
Semoga rengkuh tangan dan pelukan orang tersayang bisa segera menenangkan.
Semoga sedih akan tergantikan pelan-pelan.
Semoga Tuhan memberi banyak-banyak kekuatan. ❤

Qurantine Day 20

Lebaran yang Aneh

Ada saat-saat tertentu di mana saya merasa terkoneksi dengan sesuatu di masa lalu. Sesuatu yang jauh, tapi terasa dekat. Sesuatu yang kelu, misalnya saat melihat ke langit biru dan merasa betapa kecilnya manusia. Sesuatu yang aneh, menggelitik, tetapi kemudian membuat sedih.

Lebaran ini seperti biasa. Tidak pernah sama sejak terakhir 2012 silam. Banyak orang mengatakan, “Ah, lebay,” atau, “Ah, biasa saja, kok. Kamu saja yang terlalu perasa.”
Justru itu. Itu masalahnya. Saya merasa, makin tua makin sulit menangkap gejala-gejala atau mendeskripsikan perasaan yang ada. Makin tua, makin tidak punya sahabat. Haha. Jelas saja sih ya. Kecuali keluarga inti dan pasangan, rasanya makin sulit menceritakan sesuatu haha hihi dengan teman.

Lebaran kali ini kami nyekar ke makam Mbah di Desa Lampur. Dua Mbah dari pihak Mamak dimakamkan di pekuburan awal masuk perkampungan. Jaraknya sekitar 39 km dari rumah.

Sebagaimana kampung lainnya bagi sebagian besar cucu, Lampur menyimpan banyak keping ingatan saya. Untuk mencapai Lampur saat saya masih kecil dulu hanya bisa menggunakan mobil colt. Perjalanan cukup panjang, bisa 3-4 jam. Di Lampur belum ada penerangan listrik. Rumah Mbah hanya disinari lampu stromking. Tidak ada televisi, hanya ada radio. Saat di rumah Mbah, saya selalu mendengar siaran radio Misteri Gunung Merapi. Bahkan tawa kekeh Mak Lampir kadang masih terekam dalam ingatan. Selain itu, saya juga membaca koleksi Wiro Sableng dalam bentuk jadul di rumah Mbah. Judul yang paling terngiang adalah “Banjir Darah di Tambun Tulang”. Selang bertahun kemudian, saya yang mendalami folklor menemukan bahwa Bukit Tambun Tulang ternyata sangat terkenal baik di pedalaman Sumatera pedalaman maupun di Bangka khususnya. Yap, Bukit Tambun Tulang lengkap dengan mitos-mitosnya ada di Gunung Maras, Pulau Bangka.

Setelah mengunjungi Mbah, kami mampir ke rumah adik-adik Mamak yang ada di sana. Lampur tidak banyak berubah bahkan dari tahun ke tahun. Dahulu kampung ini adalah primadona. Saat PT. Timah meninggalkan tempat ini karena dinilai sudah tidak ada lagi cadangan timah, kondisi meredup. Suram. Sepi. Seperti perempuan yang ditinggalkan karena sudah tidak cantik atau tidak menarik lagi. Menyedihkan.

Kini, orang-orang berjuang dengan caranya sendiri. Berkebun lada, menanam sawit, karet, atau singkong. Pokoknya apa saja. Yang menambang timah, tentu masih ada. Tambang timah inkonvensional namanya (TI). Tentu saja memang harus bekais alias mengais-ngais hanya dapat sisa-sisanya saja. Anak-anak harus berjuang sekolah, meneruskan pendidikan. Jika tidak, ya kehidupan tidak akan berubah. Hanya berkutat -dalam lingkaran setan terus-menerus.

Terkadang, hal yang mengesalkan adalah yang membuat sedih dalam waktu bersamaan. Dalam wajah adik-adik Mamak, saya melihat kesedihan, kesusahan. Tapi di sana juga ada sesuatu yang membuat saya seperti, “ah, bagaimana sekarang? ah, apalagi yang akan dilakukan sekarang?” Sesuatu yang membuat kesal dan sedih beberapa tahun belakangan.

Entahlah. Tuhan yang punya rencana. Maka serahkan pada Dia dan alur waktu yang akan membawa kita hingga di titik mana.

Cerita sehari-hari

2022 dan frustrasi kita

Hai! Sudah tahun 2022 dan ini adalah postingan perdana di tahun ini. Semuanya berjalan begitu cepat sampai-sampai agak engap nih.  

Saya kerap mempertanyakan; kenapa jalannya seperti ini? Kenapa jalur ini yang saya lewati? Apa yang menunggu di depan?

Tentu saya hanya manusia biasa dan tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Butuh waktu untuk merenungkan. Kenapa ada yang namanya lini waktu? Supaya kita dapat mempersiapkan diri. Beberapa waktu lampau, saya kerap protes pada Tuhan. Kenapa sih waktu berjalan lama sekali. Saya mau cepat sampai ke titik X, Y, atau Z. Sampai kekasih saya harus bilang, “Sabar. semua ada waktunya.”

Pandemi tak kunjung selesai dan bhaaam! Nah, lho. Makanya jangan sok-sokan. Mungkin begitu kata Tuhan.

Saat ini, begitu banyak yang terjadi. Sampai-sampai membuka televisi atau media sosial bahkan membuat lelah, capek, bahkan mual.

Di masa-masa yang sulit ini, siapa saja membutuhkan pertolongan. Di masa-masa sekarang, siapa saja kehilangan teman. Yang tidak boleh dilakukan adalah kehilangan harapan.

Sungguh, perasaan saya sedang tidak baik-baik saja. Saya ingin memeluk orang yang saya sayangi. Saya ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi tentu saja menulis hal seperti ini akan terasa lebih mudah ketimbang melakukannya.
Setiap hari, kita mengalami kesedihan, kekecewaan, bahkan kemarahan. Karena kita toh manusia–bukan malaikat–dan itu wajar.
Setiap hari, saya hanya bisa berdoa. Semoga makin banyak kekuatan diberikan pada kita. Semoga terang jalan yang dilalui. Semoga kuat menopang hidup dan kehidupan orang lain yang bergantung pada kita. Semoga badai dapat berlalu dan kita semua mampu pulih dengan baik.

Catatan Perjalanan

Bali, Between Hello and Goodbye!

Maafkan kenorakan saya. Karena baru pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Dewata, saya tidak habis-habisnya bersyukur. Yah, meskipun tidak dalam rangka liburan, alias ini sih my trip my sppd, ya tetap saja jiwa saya meronta-ronta kenorakannya.

Sebelum berangkat, saya sudah mengontak teman saya yang tinggal di Bali. Saya katakan, dengan kemungkinan jadwal acara yang sangat padat, rasanya sulit untuk keluar jalan-jalan bahkan. Karena status saya sebagai panitia kegiatan empat hari tidak memungkinkan saya meninggalkan kelas yang harus diurus. Benar saja, akhirnya saya menghabiskan waktu full hanya di sekitaran hotel. Kebetulan pada waktu itu kami mengadakan acara di Merusaka, Nusa Dua, Bali (formerly Inaya Putri Bali).

Saya tiba di Denpasar pukul 17.40 WITA. Dengan posisi bandara yang dekat dengan laut, saya bisa melihat sunset dari jendela saya. Rasanya? Saya tidak bisa menggambarkannya. Hanya saja, saat itu saya mengenang orang yang saya kasihi dan berkata dalam hati, “Jika saya bisa membagikan kebahagiaan ini bersama orang yang saya cintai, mungkin rasanya akan berlipat-lipat lagi.”

sunset dari jendela

Saya adalah orang terakhir yang turun dari pesawat. Sampai-sampai Pak Supir yang menjemput berulang kali menelepon untuk memastikan posisi saya berada di mana. Kemudian saya diantarkan menuju lokasi acara. Saat tiba, kondisi sudah gelap sehingga agak kesusahan bagi saya untuk memfoto. Sudah ada rundown acara yang menanti saya untuk empat hari ke depan.

Sebelum memutuskan memilih Merusaka Nusa Dua sebagai lokasi kegiatan, panitia sudah berulang kali berdiskusi mengenai pemilihan tempat. Yang dibutuhkan adalah hotel yang mampu menampung ratusan peserta kegiatan dengan venue yang sangat besar untuk pertemuan pleno. Setelah dilakukan survei lapangan, dipilihlah Merusaka ini.

Puri 7 a.k.a Puri Saraswati

Saya dan teman sekamar saya, Mba Jiji ditempatkan di Puri Saraswati. Selama 4 hari di Bali, saya harus akui, saya melakukan olahraga kaki cukup intens. Bukan tanpa alasan, jarak antara kamar, ruang makan, dan aula pertemuan sangat jauh. Dalam sehari, rata-rata saya bisa mencapai 7000-8000 langkah. Jumlah yang jauh meningkat jika dibandingkan aktivitas di rumah atau kantor. Sebenarnya hotel ini menawarkan mobil golf untuk transportasi antartempat. Tapi ya keder sama yang lansia-lansia lah. Masih bisa jalan santai tapi malah pilih menggunakan mobil golf :>

Bagi saya, hotel ini bagus, tapi tidak hangat. Tidak homey. Fasilitas yang dimiliki sangat lengkap. Tapi membayangkan untuk membawa orang tua ke sini, akan jadi PR. Anak-anak mungkin akan senang dengan fasilitas kolam renang yang seabrek-abrek alias banyak banget kalau mau nyemplung. Di sini ada, di sana ada. Belum lagi akses dekat menuju pantai. Sepertinya ini memang menyasar pasangan muda, yang masih fit, yang membutuhkan privasi dan kenyamanan tanpa ingin diganggu oleh orang-orang. Haha.
Selain itu, dengan privasi yang dijaga superketat, akan sangat sulit memesan pengantaran makanan dari luar karena akan melewati screening pengawasan dari pihak keamanan. Agak repot ketika tidak terbiasa dengan jenis masakan khas Bali dan ingin memesan sesuatu dari luar hotel.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, hotel ini punya akses langsung menuju pantai. Di pagi hari dan sore hari, ramai orang-orang datang berkunjung. Ada ibu-ibu yang menawarkan jasa memijit, sayangnya saya tidak sempat mencobanya. Karena saya anak pantai, sebenarnya tidak terlalu menarik melihat pantai di deretan pantai Nusa Dua ini. Karena sebenarnya sama saja dengan yang ada di dekat rumah. Saya berharap dalam kunjungan berikutnya ke Bali, saya bisa mengeksplorasi gunung atau hutan yang ada. Aaaakk…

Padatnya jadwal acara tidak memungkinkan saya untuk bahkan keluar dari hotel. So sad, but it’s okay. Toh perginya saya ke Bali memang diselenggarakan dalam kerangka perjalanan dinas. Wkwkw. Banyak hal yang sepertinya saya keluhkan ya? Percayalah, saya sangat bersyukur bisa berangkat ke Bali dan melihat banyak orang, berkenalan dengan orang baru dengan kepribadian baru, dan bertemu banyak orang baik.

Sekali lagi! Matur suksma, Bali! Till we met again in another occasion, yaa~~

Cerita sehari-hari, Qurantine Day 20

Desember dan Awal Perjalanan

“Perjuanganmu dan jalanmu masih panjang. Kuat-kuatlah.”
Ketika membaca pesan ini, saya menitikkan air mata. Cengeng, ya? Haha.
Saya tidak tahu, Tuhan begitu baik pada saya. Di Desember, saya mendapat banyak hal, banyak kebaikan, banyak kesempatan, banyak jalan baru terbuka, banyak dukungan, banyak cinta dan kasih yang saya terima. Untuk itu, saya perlu berterima kasih banyak-banyak. Saya merasa, apa ya, diberi banyak keberuntungan.

Saya pernah membaca sebuah postingan di Instagram. Tentang resolusi di tahun baru.

Saya tidak muluk-muluk meminta apa yang saya inginkan di tahun depan. Saya ingin memulai sekarang. Saya mulai membaca lagi. Menulis lagi. Belajar lagi. Tidak semua orang diberi kesempatan seperti saya. Karena saya tahu, yang paling berharga adalah waktu. Waktu tidak pernah berjalan mundur. Waktu yang sudah dilewati, waktu yang berharga, tidak bisa kembali.

recalling memories

Dreamless Sleep~

Socrates menyebut bahwa death is like a dreamless sleep. Terdengar menyenangkan bukan. Tapi apakah kematian benar-benar semenyenangkan itu?  Sebagai muslim, saya juga sering mendengar bahwa tidur adalah sebuah kematian kecil. Oleh karena itu, jika bangun tidur, doa yang dibaca adalah ungkapan terima kasih bahwa Tuhan telah menghidupkan setelah mematikan, dan hanya kepada-Nya tempat kembali. Sederhana, kita dihidupkan setelah dimatikan. Indah, tapi sebenarnya mencekam.

Saya sedang membaca sebuah buku yang bagi saya lumayan berat, tetapi membuat saya ter-wow-wow. Judulnya The Oxford Handbook of Philosophy of Death. Dalam buku ini, dijabarkan berbagai definisi tentang kematian yang disampaikan oleh para filsuf mulai dari Socrates, Plato, Aristoteles hingga profesor-profesor di dunia akademik modern saat ini. Dalam bagian pengantar, ada sebuah pernyatan yang disebut Termination Thesis. Pernyataan ini dibuat Feldman pada tahun 1992 dan dikatakan bahwa ada 3 premis utama:

  1. When a person dies, he or she loses the property of being a person
  2. When a person loses the property of being a person, he or she ceases to exist
  3. Therefore, when a person dies, he or she ceases to exist

Ibu saya wafat saat saya masih berumur 21 tahun. Sebuah angka yang sepertinya bisa dianggap sudah cukup dewasa padahal sebenarnya tidak juga. Saya masih sibuk dengan diri sendiri. Kabar kematian Ibu saya terima pukul dua dini hari. Masuk rumah sakit di sore hari, lalu dibawa ke kamar rawat inap, dan meninggal di pukul 11 malam. Saking cepatnya rentang waktu, sepertinya otak saya tidak bisa merekam dengan baik apa yang saya rasakan pada saat itu.

Waktu Ibu telah tiada, saya mengumpulkan potongan-potongan puzzle. Kenangan, kebiasaan, perbuatan, apa saja yang bisa mengingatkan saya kepada beliau. Anehnya, saya merasa Termination Thesis di atas kurang sesuai. Karena justru ketika seseorang meninggal, orang tersebut menjadi eksis. Menjadi tetap hidup. Abstrak sekali bukan? Aneh rasanya, tetapi bagi orang-orang yang pernah merasa kehilangan. Hal ini akan sangat relevan. Semakin banyak tahun dilewati, orang itu semakin hidup, semakin nyata. Bagi saya, kenangan masa kecil, bau hujan di halaman rumah, tiap bagian rumah yang dulu ditinggali semakin terlihat bagian-bagiannya. Semakin cerlang. Rumah yang kini tidak kami tempati lagi, tempat menghabiskan masa kanak-kanak malah makin sering masuk ke ingatan dan pikiran.  Lucunya, aktornya adalah saya yang telah mendewasa tetapi bagian yang mengingatkan akan hal tersebut adalah potongan ingatan saya di masa kanak-kanak.

Saya tidak tahu, tapi keinginan saya saat ini adalah menciptakan banyak kenangan untuk orang-orang yang saya cintai dan kasihi. Yang baik untuk dikenang. Yang mengendap lama di ingatan. Yang membawa orang-orang tercinta mengingat detail kasih atau sayang yang kita berikan. Semoga kita semua masih diberi banyak kesempatan.

Catatan Perjalanan, Qurantine Day 20

membaca kasih

suara-suara yang awalnya terdengar asing
kian lekat
seperti engkau mendengar suara dari masa lampau
sementara orang-orang tua membaca dari matamu
menggenggam tanganmu
dan mendoakan hidupmu
lebih panjang, lebih bersinar daripada sebelumnya

engkau bertanya, engkau menemukan jawaban dari mereka
tapi ternyata dalam hatimu, engkau adalah jendela
masih menerima suara-suara riuh
suara bocah memanggil nama ibunya
bergema di hatimu

kasih sayang, serupa matahari
ia memberi hangat
sampai hatimu tumpah ruah dengan rasa gembira
engkau memberi ruang makin besar
untuk menerima kasih
dan berjanji akan melipatgandakannya

Catatan Perjalanan, Cerita sehari-hari

Membicarakan Kematian

Hari ini, saya menempuh perjalanan 2 x 58,1 kilometer jauhnya dari rumah menuju rumah adik saya yang berbeda kabupaten. Dalam perjalanan, beberapa kali hujan turun. Hujan datang dan pergi. Di saat saya pikir hujan berhenti, beberapa saat kemudian ia kemudian datang lagi. Barangkali kami memang harus dihajar hujan bertubi-tubi.

Dalam perjalanan, pikiran saya mengawang. Dengan kelajuan motor di atas rata-rata, saya perlu mencubit Bapak saya. Saya katakan, tak perlu mengejar waktu. Tak ada yang diburu waktu.

Saya tidak tahu pastinya sejak kapan. Tetapi, saat berkendara, saya selalu memikirkan bagaimana jika ini adalah saat terakhir saya. Bagaimana jika saya mendapati diri saya tergelincir di jalanan aspal berpasir, dengan mulut berlumuran darah dan gigi depan yang patah? Bagaimana jika saya sudah tertib berkendara, sementara dari arah berlawanan ada pengendara yang semena-mena? Bagaimana jika setang saya ditabrak dari arah kanan sehingga saya terbang dan terpental?

Sebelum naik pesawat pun, saya makin diliputi ketakutan. Bagaimana jika ini adalah saat terakhir saya? Sejak laporan air crash investigation JT610 keluar, saya makin berpikir keras. Mungkin saja saya akan mati di udara, bahkan sebelum puing-puing pesawat menubruk tanah atau samudra.

Pertanyaan yang sering mampir di kepala saya. Bagaimana jika saya menghilang? Mati? Di jalan? Di tempat tidur? Di mana saja?

How much do we fear death?

Pertanyaannya mungkin juga akan seperti ini. Mengapa kita begitu takut dengan kematian?

Saya jadi ingat kata-kata Gong Yoo kepada Park Bo Gum dalam film terbaru mereka, Seobok.

“I’m not sure whether I really want to live or am I just afraid to die,”

Bo Gum adalah seorang manusia kloningan pertama di Korea (tentu saja) yang berhasil diciptakan setelah riset panjang sepuluh tahun ke belakang menggunakan manipulasi genetik dan kloning stem cell. Sel yang dimiliki Bo Gum dipercaya bisa menyelamatkan manusia yang sedang sekarat sehingga bisa sembuh seperti sedia kala. Sebagai manusia kloningan, dia berumur panjang, alias akan abadi. Tetapi, justru itu masalahnya. Bo Gum malah ingin mati layaknya manusia yang lain.

Dalam film Seo Bok, Bo Gum bertanya pada Gong Yoo, “Bagaimana rasanya sekarat?”

It sucks. The feeling is sucks,” begitu jawaban  Gong Yo.  

“’Jadi, apakah hidup itu terasa menyenangkan?” tanya Bo Gum kembali.

(((hening)))

Saya rasa, saya juga akan kesulitan menjawab pertanyaan Bo Gum.

Apakah hidup itu menyenangkan? Apakah kita bahagia dengan hidup kita? Apakah hidup kita cukup?

Kathryn James dalam Death, gender, and sexuality in contemporary adolescent literature terbitan Routledge membahas juga perkara kematian. Bagaimana kita “membaca” kematian? Tentu saja kematian sejauh ini hanya bisa direpresentasikan. Dalam pandangan Bronfen, representasi kematian secara naratif dan visual dapat dibaca sebagai suatu simptom budaya atau common cultural image repertoire. Sementara bagi Kearl, kematian dapat didefinisikan sebagai sebuah ide yang terkonstruksi secara sosial, “the fears, hopes, and orientation people have regarding it are not instictive, but rather are learned from such public symbols as the language, arts, and religious and funerary rituals of their culture.”

There can be no discussion of death without a references to live, vice versa~~

Barangkali yang ingin disasar dalam dialog antara Gong Yoo dan Bo Gum dalam film Seobok bukanlah kematian dalam arti harfiah suatu organisme. Tidak hanya fungsi vital suatu organisme yang mati, kematian juga dapat kita lihat dari meredupnya suatu kekuatan (power), atau hilangnya suatu nilai atau prinsip (lack of value), dan juga yang tak kalah penting yakni matinya sebuah harapan (hopes).

Hidup dan mati adalah dualitas. Tak bisa kita pisahkan. Sejak manusia lahir pun, kematian adalah bayang-bayangnya. Tentu saja hal ini sangat menarik. Barangkali saya harus lebih banyak mengkaji perkara hidup dan kematian ini.